Petani Keluhkan Kelangkaan Pupuk

Bengkulu
Dwi/Bengkulu Ekspress KELUHKAN : Para petani mengeluhkan kelangkaan pupuk subsidi jenis phonska.

BINGIN KUNING,Bengkulu Ekspress – Para petani di Kecamata Bingin Kuning dan Lebong Sakti, Kabupaten Lebong mengeluhkan kelangkaan pupuk jenis Phonska. Kelangkaan ini sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir ini.

Amirul (52) salah seorang petani mengatakan, selama ini pemerintah memang menyediakan pupuk bersubsidi. Hanya saja hingga saat ini pupuk tersebut belum tersedia di distributor pupuk bersubsidi, sedangkan saat ini masa pemupukan sudah masuk tahap ke dua untuk pemupukan buah.

“Saat ini kami sangat kesulitan mendapatkan pupuk phonska. Kami takut kalau tidak dikasih pupuk phonska pertumbuhan buah berdampak pada hasil panen yang menurun,” keluh Amirul.
Dijelaskan Amirul, normalnya dua hari sebelum turun tanam sawah harus diberikan pupuk dasar terlebih dahulu, dan saat tanaman padi berumur 10 hingga 15 hari harus diberikan pupuk kembali. Kemudian saat padi berumur 40 hingga 50 hari kembali diberikan pupuk.

“Hal ini tentunya berpengaruh pada hasil panen yang kami dapat,” katanya.
Sebab, biasanya 1 hektar sawah hasil yang diperoleh sekitar 100 karung lebih. Jika pupuk kurang maka hasil panen nantinya akan menurun karena hasil yang diperoleh yakni sekitar 60 sampai 70 karung per hektar.

Untuk itu, para petani berharap kelangkaan pupuk ponska di Lebong ini dapat segera teratasi agar hasil yang diperoleh petani nanti dapat meningkat. “Harapan kita untuk kelangkaan pupuk ini dapat segera teratasi agar hasil panen kami nanti dapat maksimal dengan diberikannya pupuk phonska, kami tidak tahu harus mengadu kepada siapa lagi soal kelangkaan pupuk ini. Mau beli pupuk non subsidi kita tidak punya uang,” pungkas Amirul.

Terpisah, pemilik salah satu kios pupuk di Kecamatan Bingin Kuning, Tanio menjelaskan bahwa untuk tahun 2017 ini, pupuk yang banyak tersedia yakni jenis urea. Sedangkan untuk pupuk ponska saat ini memang mengalami kekurangan, bahkan ditahun 2017 ini dirinya hanya mendapatkan jatah pupuk ponska 22 ton dalam satu tahun. Namun, pihaknya mengarahkan agar petani mengganti pupuk phonska tersebut dengan pupuk non subsidi yang kandungannya sama.

“Padahal tahun lalu kita dapat 100 ton untuk pupuk ponska. Tahun lalu, kita kesulitan urea dan ponska yang berlebih. Nah tahun ini malah sebaliknya, urea yang banyak phonska yang langka,” ungkapnya.(777)