Petani Diminta Jual Gabah ke Bulog

ilustrasi gabah

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Divisi Regional Provinsi Bengkulu menginginkan petani menjual sebagian gabahnya ke Bulog untuk menjaga stok cadangan pangan daerah. Hal ini dikarenakan maraknya para petani Bengkulu menjual gabah ke provinsi lain, seperti petani di Kabupaten Mukomuko hampir semuanya menjul gabah ke Padang, Sumatera Barat dan Kerinci, Jambi.

“Petani yang mendapatkan bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) ada kewajiban menjual ke Badan Urusan Logistik (Bulog). Paling tidak 20 atau 30 persen dari total produksinya,” kata Kepala Bulog Divre Bengkulu, Dedy Sabentra, kemarin (26/8).

Menurutnya, perlunya mewajibkan petani menjual sebagian gabah yang diproduksi karena Bulog sebagai lembaga penyangga stok pangan nasional dan daerah. Jika semua hasil produksi petani dijual kemudian dimainkan oleh swasta, dikhawatirkan pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa ketika stok cadangan pangan nasional kosong. “Jangan sampai stok beras kosong, harga naik, pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Ujung-ujungnya kita impor. Kalau impor salah lagi,” ujar Dedy.

Ia mengaku, tidak bisa dipungkiri, penjualan gabah ke luar daerah masih cukup tinggi dari petani secara langsung ataupun melalui pengumpul atau toke. Ironisnya lagi, setelah gabah tersebut menjadi beras, malah berasnya dijual lagi ke Provinsi Bengkulu dengan harga yang tinggi.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Bulog membutuhkan payung hukum. Dengan adanya payung hukum dapat melarang petani untuk menjual gabah ke luar daerah sehingga diharapkan peran Kepala Daerah, terutama Bupati/Walikota agar mengingatkan para petani untuk menjual gabah kepada Bulog.

“Kalau petani menjual gabah langsung ke luar ataupun pengumpul, maka harga beras di pasar akan lebih mahal sekitar Rp 12 ribu per Kg, kan kasihan masyarakat. Sedangkan jika petani menjual ke kita maka harga beras hanya Rp 9.500 dipasar,” ungkap Dedy.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ir Ricky Gunarwan menyarankan kepada petani yang ada di Bengkulu untuk menjual gabahnya ke Perum Bulog. “Hasil panen padi petani disarankan dijual ke Bulog. Dengan demikian setiap musim panen, harapan kita hasilnya bisa terserap baik itu oleh pasar dan pemerintah. Pemerintah dalam hal ini yang menyerap gabah petani adalah Bulog,” ujar Ricky.

Ia menjelaskan, persoalan kesulitan untuk menjual gabah hasil panen sesungguhnya bisa ditanggulangi dengan hadirnya Bulog tersebut. “Kita akui, selama ini petani kita kurang berminat menjual ke Bulog karena harga yang ditetapkan pemerintah sekitar Rp 4.500 per kilogram gabah kering, berbeda dengan harga pasar yakni sekitar Rp 5000- Rp 5.500. Hal itu yang membuat mereka enggan menjual kepada Bulog dan memilih menjual kepada pasar,” terang Ricky.

Dengan kondisi dan agar keinginan masyarakat atau petani tersebut bisa diakomodir, perlu didorong adanya lembaga ekonomi masyarakat yang bisa turut membeli gabah petani.

“Harapan kita ke depan akan bisa menumbuhkan lembaga ekonomi masyarakat seperti Bumdes dan koperasi yang bisa menyerap gabah petani, karena selama ini kita menyerahkan kepada pasar dan Bulog, perlu adanya alternatif lain,” tutupnya.(999)