Petani Diminta Beralih ke Kopi

Foto : Dedy Ermansyah

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Masih rendahnya harga komoditas kelapa sawit dan karet di Provinsi Bengkulu, mengharuskan banyak petani beralih ke komiditasi lain, salah satunya kopi. Pasalnya, harga komoditas kelapa sawit dan karet tidak diketahui kapan akan mengalami kenaikan. Sejak 2018, kedua harga komoditas ini terus mengalami penurunan bahkan hingga November 2019, harga tandan buah segar sawit tertinggi hanya Rp 1,265 perkilogram, sementara harga karet berkisar Rp 6.000 per kilogram.

Wakil Gubernur Bengkulu H Dedy Ermansyah SE mengatakan, petani di Bengkulu harus mengurangi ketergantungan terhadap kelapa sawit dan karet. Karena kedua komoditas ini masih dihantui oleh perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Oleh sebab itu, ia meminta petani untuk beralih dan fokus ke bisnis kopi.

“Petani harus sedikit-sedikit mulai beralih ke kopi, karena kopi memiliki prospek ekonomi yang cerah kedepannya,” kata Dedy, kemarin (4/12).

Ia mengaku, kopi dijadikan andalan daerah karena Bengkulu merupakan satu dari tiga penghasil kopi terbesar di Indonesia. Bahkan Bengkulu termasuk penghasil kopi robusta terbesar setelah Sumatera Selatan dan Lampung. “Kita ini penghasil kopi terbesar di Indonesia, kenapa ini yang tidak kita manfaatkan,” ujar Dedy.

Tidak hanya itu, kopi robusta Bengkulu juga telah berhasil menang di 3 kategori awards pada Kejuaraan Kopi Internasional Agency for the Valorization of the Agricultural Products (AVPA)-Perancis. Kopi Robusta Bengkulu yang berhasil sabet penghargaan internasional tersebut, yakni Bencoolen Rejang Lebong, Bencoolen Kepahiang, dan Bermani Coffee Rejang Lebong. “Ini membuktikan bahwa kopi robusta kita itu memang luar biasa,” terang Dedy.

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Bengkulu akan terus melakukan pengembangan kopi di daerah. Diantaranya mendorong masyarkat untuk berkebun kopi. Apalagi luas lahan kopi Robusta di Bengkulu baru mencapai 86,746 Ha dengan produksi 55,333,34 Ton, sedangkan Kopi Arabika Seluas 3,734 dengan Produksi 1,482,10 ton, dan perkebunan besar swasta kopi arabika seluas 405 Ha dengan Produksi 140 ton. “Kita akan terus mendorong masyarakat untuk berkebun kopi, karena kopi kita itu memiliki prospek yang bagus,” tutupnya.(999)