Petani Cabai Terancam Gagal Panen

Ary, Cabai diserang penyakit pirang (1)
ARY/Bengkulu Ekspress
Tanaman cabai milik Riko petani Kelurahan Kesambe Baru yang diserang penyakit pirang. Penyakit yang mengancam tanaman cabai petani ini hampir menyerang seluruh tanaman cabai milik petani.

CURUP, Bengkulu Ekspress– Para petani cabai di Kabupaten Rejang Lebong dihantui ancaman gagal panen. Hal tersebut setelah saat ini tanaman cabai milik petani diserang oleh sejumlah penyakit. Penyakit yang menyerang tanaman cabai warga tersebut seperti penyakit pirang atau bule. Penyakit ini ditandai dengan warna daun tanaman cabai berubah menjadi kuning. Penyakit ini hampir merata menyerang tanaman petani di Kabupaten Rejang Lebong mulai dari kawasan Curup Tengah hingga sejumlah kawasan pertanian sayur lainnya seperti Curup Timur dan Selupu Rejang.

“Kalau kami menyebut penyakit ini adalah penyakit bule atau penyakit pirang,” sampai Riko Nopriansyah (35) petani cabai di Kelurahan Kesambe Baru Kecamatan Curup Timur Rabu (25/7) kemarin.

Menurut Riko, penyakit pirang yang menyerang tanaman cabainya tersebut dikarenakan oleh perubahan cuaca yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, terutama sejak terjadinya hujan panas yang kemudian dilanjutkan dengan tak kunjung turunnya hujan dalam seminggu terakhir.



“Kalau kata mereka yang pengalaman, penyakit ini disebabkan oleh bakteri karena cuaca yang ekstrim,” terang Riko.

Akibat terserang penyakit pirang ini, maka menurut Riko produksi buah cabainya menjadi lebih sedikit hal tersebut dikarenakan daun dan bunga cabai menjadi rontok. Bahkan menurut Riko bila sudah terkena penyakit ini waktu panen juga menjadi pendek. Dimana menurutnya dalam satu kali tanam cabai ia dan sejumlah petani lainnya bisa melakukan panen sampai 12 kali, namun karena terserang penyakit pirang masa panennya bisa hanya 6 atau 7 kali saja.

Selain itu jumlah cabai yang mereka hasilkan bila normal dari setengah hektar lahan yang ia kelola bisa menghasilkan sektar 500 Kg cabai namun dengan diserang penyakit maka cuman bisa menghasilkan sekitar 150 Kg saja sekali panen.

“Hari ini merupakan panen ketiga kami, seharusnya daunnya masih rimbun-rimbunnya, namun karena terserang penyakit ini sehingga seperti panen terakhir karena daun dan buahnya tinggal sedikit,” terang Riko.

Riko juga mengaku, hingga saat ini belum ada obat atau pestisida yang bisa digunakan untuk membasmi penyakit ini. Sehingga saat tanaman cabai terkena penyakit ini, maka menurut Riko petani tinggal pasrah saja, kecuali bila terkena saat baru mau tumbuh, biasanya petani melakukan antisipasi dengan mematahkan batang cabai dengan harapan akan tumbuh tunas baru yang tidak terkena penyakit pirang.

Sementara itu, untuk harga cabai sendiri, Riko mengaku hingga saat ini masih terbilang stabil. Dimana menurutnya ditingkat petani sendiri harga cabai masih diangka Rp 25 ribu per Kg. “Dengan kondisi seperti ini, kita bisa membalikkan modal saja sudah cukup senang,” tutup Riko dengan nada pasrah.(251)