Petani Cabai Menjerit Lagi

BENGKULU, BE – Curah hujan yang tinggi yang terjadi di Kepahiang saat ini mengakibatkan petani cabai kembali menjerit. Produk pertanian yang bercita rasa pedas itu terasa pedas bagi petaninya sendiri. Produksinya menurun drastis hingga membuat penggiatnya merugi.

Salah sorang petani cabai di Desa Terti Kecamatan Bermani Ilir, Diyahmengeluhkan keadaan tersebut. Diungkapnya, curah hujan yang tak turu-turun mengakibatkan budidaya tak dapat dilakukan dengan normal. Biaya pemeliharaan meningkat, sementara hasilnya terus jatuh. “Sering sekali hujan, bunga cabai rontok sehingga beberapa batangnya tidak berbuah,” keluh Diyah.

Cuaca ekstrim yang terjadi bukan hanya soal hujan semata. Lebih dari itu, angin kencang bahkan badai kerap menerpah lahan-lahan pertanian milik warga. Kondisi itu memperparah kerugian petani. “Angin kencang juga membuat tanaman cabai rusak,” tambahnya.

Patani lainnya, Wahidin warga Desa Imigrasi Permumenuturkan hal serupa. Menurutnya, pasokan cabai yang biasa dikirim ke luar desa dari di kebun miliknya terus menjadi berkurang. ”Padahal kami menjaga kebun lebih geiat, tapi hasilnya tidak seberapa,” tuturnya.(505)