Petani Beras Pilih Jual Eceran

BERSIHKAN: Seorang petani sawah, Rosmeri tengah membersihkan beras-beras hasil panen sawahnya, agar tidak memiliki atah atau butiran beras yang jelek.
BERSIHKAN: Seorang petani sawah, Rosmeri tengah membersihkan beras-beras hasil panen sawahnya, agar tidak memiliki atah atau butiran beras yang jelek.

KEPAHIANG, Bengkulu Ekspress – Petani sawah di Desa Taba Tebelet Kepahiang memilih menyimpan beras hasil panen, dari pada langsung menjualnya kepada toke atau tengkulak. Karena harga jual beras dengan cara eceran jauh lebih tinggi dari pada harga beli para toke.

Seperti diungkapkan Rosmeri (45), warga Dusun IV Desa Taba Tebelet Kecamatan Kepahiang, Senin (22/1).

Menurutnya, ia lebih memilih mengecer atau jual langsung beras hasil panen sawahnya kepada masyarakat, dari pada mejual beras kepada para toke.

“Biarlah saya jual secupak demi secupak saja ke masyarakat, karena harga jualnya bisa sebesar Rp 18.000/cupak,” ungkapnya.

Menurutnya, bila jual kepada para pengepul atau toke tentunya harganya lebih murah. Karena para pengepul akan kembali menjual beras kepada masyarakat umum. “Saya baru panen dan hasilnya lumayan, padi kita jenis IR kita panen, kemudian jual berasnya di rumah aja,” ujar Ros.

Sementara pedagang beras Jhon Wahib mengatakan, terjadi kenaikan harga beras di pasar sebesar Rp 500 hingga Rp 1500/cupak. Sebelumnya beras dijual harga Rp 17.000/cupak, sekarang dijual Rp 18.000. “Kalau kita jual beras lokal itu Rp 18.000, memang ada kenaikan,” ucapnya.

Kenaikan juga terjadi pada beras Pasma yang dipasaran dijual seharga Rp 18.500. Padahal sebelumnya harga hanya dikisaran Rp 16.500 hingga Rp 17.000. “Kita belinya juga naik harganya, makanya kita terpaksa ikut menaikan harga,” sebutnya. (320)