Peserta Suluk dari NTT

IMG_1831CURUP UTARA, BE – Kegiatan Suluk yang diselenggarakan pengajian ilmu tasawuf Thoreqat Naqsyabandiyah tidak hanya diikuti jemaah dari Pulau Sumatera.  Kegiatan yang berlangsung di Desa Suka Datang Kecamatan Curup Utara, sejak Jum’at (12/07) itu juga diikuti oleh warga dari Betun Atambua Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mansur (25) mengaku berangkat dari NTT dua hari sebelum pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1434 Hijriah, bersama Rusman (40) dan Iwan (35).
Mansur merupakan pembimbing ilmu tasawwuf Thoreqat Naqsyabandiyah yang berpusat di Kabupaten Rejang Lebong tersebut. “Di daerah kami belum ada guru dan gedung untuk menyelenggarakan Suluk, sehingga harus mengajak 1 murid ke Desa Suka Datang ini, karena ini merupakan pusat ajarannya di Indonesia,” ungkap Mansur.
Kepada wartawan yang menjumpainya, Minggu (14/7) di gedung Thoreqat Naqsyabandiyah, Mansur mengaku sudah 1 tahun mengikuti pengajian tersebut. “Saya ini kebetulan asli Aceh, namun telah menetap di NTT, dua rekan saya asal Sulawesi yang telah menetap di NTT,” terangnya.
Lewat pengajian ilmu tasawwuf Thoreqat Naqsyabandiyah, Mansur berharap bisa mengajak masyarakat untuk tidak larut dengan kesibuhan dunia dan mendekatkan diri dengan Allah lewat zikir dan amalan yang diajarkan.
“Kalau kita dekat dengan Allah, maka akan tercipta kedamaian di
keluarga, masyarakat dan negara yang kita cintai ini,” katanya.
Sementara itu, kegiatan Suluk yang berlangsung di Desa Suka Datang gelombang pertama Ramadhan tahun ini diikuti oleh 590 peserta, terdiri dari 340 laki-laki dan 250 perempuan, yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, Oki, OI, Oku Provinsi Sumatera Selatan, Musi Bayuasin, Palembang, Medan, Pekan Baru, Jambi, Kabupaten Kaur.
“Seluruh jemaah akan menggikuti serangkaian kegiatan selama 10
hari, dengan kegiatan zikir,” ungkap Wakil Ketua Thoreqat Naqsyabandiyah M. Edi kepada wartawan.
Diungkapkan Edi, beberapa kegiatan yang dilaksanakan diantaranya berbuka puasa bersama, dilanjutkan salat Magrib berjamaah, makan bersama. Beberapa jemaah mengikuti salat Isya dan Taraweh di gedung Thoreqat Naqsyabandiyah dan masjid di Desa Suka Datang. Dilanjutkan dengan kembali ke kelambu masing-masing berikuran 1 x 1 meter, untuk melaksanakan ritual zikir. “Kegiatan seperti tahun lalu, tidak berubah,” tegasnya.
Untuk persiapan, Edi menegaskan pihak penyelenggara mewajibkan jemaah untuk melampirkan surat keterangan kesehatan di masing-masing daerah asal, selanjutnya melakukan pemeriksaan lanjutkan melibatkan dokter yang bertugas di Pukesmas Tunas Harapan Kecamatan Curup. “Bagi yang memiliki catatan penyakit serius, menjadi perhatian dan pantauan kita,” tutupnya. (999)