Perubahan Iklim Menjadi Perhatian Khusus Epson Indonesia

JAKARTA, bengkuluekspress.com– Perubahan iklim mengakibatkan pemanasan global merupakan persoalan penting dan menakutkan masyarakat bumi saat ini. Ancaman pemanasan global akibat gas rumah kaca, penyebab perubahan iklim menjadi pembahasan serius semua pemimpin dunia. Sejumlah aksi dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan dunia usaha untuk mengurangi laju pemanasan global penyebab perubahan iklim. Gas rumah kaca dihasilkan dari aktivitas manusia, antara lain CO2, CFC, CH4, dan sebagainya secara berlebihan. Ada juga gas rumah kaca yang dihasilkan oleh proses alami.

Epson sebagai salah satu perusahaan printer terbesar dunia tak tinggal diam dalam upaya ikut andil memerangi perubahan iklim akibat pemanasan global dan meningkatnya efek gas rumah kaca akibat ulah manusia. Bagaimana cara epson memerangi perubahan iklim, berikut laporannya:

Head Marcom and PR Epson Indonesia, Nolly Danurendra menyebutkan saat ini Epson berfokus pada teknologi digital dari teknologi analog. Teknologi digital tidak saja memudahkan para pengguna printer epson untuk berkreatifitas secara simple tetapi juga ramah lingkungan.

“Kalau analog dengan teknologi sablon itu, seperti kita ketahui akan ada limbah dari cairannya. Sedangkan digital pure, dia hanya digital. Sistemnya ada dua cara pertama direct to garment di mana kita bisa langsung mencetak ke bahan sedangkan yang kedua dengan sublimasi, sublimasi itu pakai transfer paper, jadi print dulu di ke ratas nanti kertasnya ditempel di kaos. Itu sampahnya dikit sekali, cukup aman,” papar Nolly, saat di wawancara Epson Service Center Jakarta, Selasa (3/12).

Selain itu Epson juga memproduksi printer berbentuk ringkas. Epson membuat ringkas selain kebutuhan konsumen yang butuh printer lebih kecil dan simple namun lebih dari itu, Epson memikirkan penyelamatan lingkungan hidup.

“Sebagai contoh Epson bikin printer dengan ukuran 80 senti, nah kalau 80 senti untuk kapasitas 1 kontainer bisa 1000 unit, nah begitu printer dibuat ringkas menjadi 60 senti maka 1 kontainer bisa cukup 1,300 unit. Jumlah ini otomatis akan mengurangi penggunaan truk kontainer pengiriman dimana truk-truk itu menghasilkan CO2. Ini bentuk epson memikirkan penyelamatan lingkungan hidup sebegitu dalamnya, itulasan bikin ringkas,” katanya.

Sementara itu Manager Product Marketing, Syahrizal Apriyanto menambahkan kriteria ramah lingkungan yang dianut epson adalah hemat listrik, hemat pemakaian. Ia katakan epson telah berfokus di inkjet, terutama pada printer secara teknologi printer sudah mendukung hal tersebut.

“Epson saat ini satu-satunya pabrikan atau brand yang printernya tidak menggunakan teknologi panas terutama untuk inkjetnya,” tambah Rizal.

Director Corporate Service, Husni Nurdin mengungkapkan pada tahun 2020 Epson Indonesia akan konsen melakukan kegiatan-kegiatan ramah lingkungan.

“Kegiatan ramah lingkungan merupakan konsen kami. Kita punya visi di tahun 2020 untuk mengurangi karbon dioksida (CO2). Epson Corporate juga pernah melakukan reboisasi di Bukit Soeharto. Kita akan melanjutkan acara ini,” lanjutnya.

Komitmen Epson Indonesia pada persoalan lingkungan ditegaskan oleh Director Corporate Service, Husni Nurdin telah dilakukan dengan berbagai cara diantaranya penyuluhan dan membangun kesadaran ramah lingkungan terhadap siswa sekolah di kawasan Bantar Gebang, Bekasi.

SKS, Tiga Wilayah Penting dalam Pertumbuhan Epson Indonesia

Director Corporate Service, Epson Indonesia, Husni Nurdin, mengungkapkan terdapat tiga wilayah penting dalam pertumbuhan Epson Indonesia saat ini. Ketiga wilayah itu yakni Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi (SKS). Menurut Husni ketiga wilayah tersebut memiliki pertumbuhan jauh lebih tinggi dari kota-kota lainnya yang sudah lebih dahulu menikmati pembangunan seperti Pulau Jawa.

“Secara umum Epson Indonesia selama tujuh tahun terakhir tumbuh sekitar 20 persen, sederhananya 19 persenan, pertumbuhan di tiga wilayah tersebut termasuk di Kalimantan lebih dari itu. Secara share mendekati nasional,” jelas Husni.

Ia juga sebutkan untuk share inkjet hampir mendekati 50 persen di Kalimatan Barat pada khususnya, kemudian projector mencapai share 35 persen. Epson menurutnya sangat antusias dan tertarik pada tiga wilayah tersebut.

Meski menaruh perhatian besar pada tiga wilayah tersebut, bukan berarti Pulau Jawa ditinggalkan. Namun perhatian lebih pada tiga wilayah SKS tersebut. Epson juga telah membentuk tiga divisi khusus Geographical Exspansion yang mewakili tiga wilayah tersebut.

Husni menambahkan mengingat pentingnya tiga wilayah tersebut dalam pertumbuhan bisnis Epson Indonesia sejumlah kegiatan yang bertujuan mendekatkan diri antara Epson dan konsumen, serta diler dilakukanlah sejumlah kegiatan.(edo)