Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu Melambat

RIO-DONI IWAN CHRISTANTO-PEJABAT BI BKL-RILIS PERTUMBUHAN EKONOMI BENGKULU MELAMBAT- (2)

BENGKULU, BE – Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu merilis bahwa pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu pada triwulan ke III tahun 2015 ini mengalami perlambatan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan ke II lalu. BI menyebutkan pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada triwulan ketiga tahun ini tumbuh sebesar 5,17 persen, sedangkan triwulan sebelum tumbuh 5,23 persen.

Manager Unit Asesmen Ekonomi dan Keuangan BI Provinsi Bengkulu, Dhony Iwan Kristanto mengatakan, perlambatan ekonomi tersebut bersumber dari konsumsi rumah tangga yang ikut menurun, investasi dan ekspor.
Sedangkan daya beli masyarakat Bengkulu selama triwulan ke III ini masih menunjukkan tren penurunanan. Hal tersebut terkonfirmasi dari indeks keyakinan konsumen dan nilai tukar petani yang cenderung menurun dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Nilai tukar petani pada triwulan III ini tercatat 92,48, sedangkan pada triwulan sebelumnya sebesar 94,43. Tekanan daya beli ini seiring dengan  penurunan harga komoditas dan melambatnya permintaan ekspor,” kata Dhony.

Adapun komoditas yang mengalami penurunan adalah karet dan batu bara. Harga internasional karet dari 2,02 dolar AS/kg  menjadi 1,66 dolar AS/kg pada triwulan ke III ini. Begitu juga dengan harga internasional batu bara turun dari 52,84 USD/MT menjadi 48,62 USD/MT.

“Implikasinya adalah kontraksi yang semakin dalam  terhadap volume dan nilai ekspor karet dan batubara masing-masing mencatat kontraksi sebesar -18,77 persen dan -41,95 persen,” terang Dhony.

Melambatnya perekonomian ini juga dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan investasi di Provisni Bengkulu, terutama dari investasi swasta yang ada di Provinsi Bengkulu. Kondisi tersebut disebabkan pelaku usaha cenderung menunda kegiatan investasinya karena melambatnya tendensi bisnis serta fluktuasi nilai tukar. Sejalan dengan hal itu, peningkatan penyerapan belanja modal APBD atau APBN  menjelang akhir tahun ini belum mampu meredam perlambatan yang terjadi.

“Sektor pertanian, kehutanan dan  perikanan serta sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor juga  menyebabkan melambatnya pertumbuhan perekonomian. Misalnya sektor pertanian memberikan   dampak    lanjut pada sektor perdangan di Bengkulu diketahui bahwa penurunan omzet retail rata-rata berkisar 5-25 persen. Sedangkan faktor Hari Raya Idul Fitri beberapa waktu juga tidak mampu memberikan dorongan secara signifikan terhadap sektor ini,” paparnya.

Inflasi Juga Melambat
Sementara itu, inflasi di Provinsi Bengkulu pada triwulan ke III tahun ini juga terjadi perlambatan. Inflasi tercatat 8,65 persen lebih rendah dibandingkan pada triwulan sebelumnya yang mencapai 9,90 persen.

“Melambatnya inflasi ini disebabkan meredanya tekanan inflasi pada kelompok administered price dan volatile food. Hampir semua kelompok komoditas  mengalami penurunan, kecuali pendidikan, rekreasi dan olahraga yang mengalami kenaikan atau peningkatan,” imbuhnya.

Masih menurut Dhony, khusus pada bulan September lalu, Kota Bengkulu mengalami deflasi sebesar 0,22 persen. Komoditas yang mendorong terjadinya deflasi itu adalah angkutan udara, daging ayam ras dan cabai merah. Secara keseluruhan Kota Bengkulu hingga September 2015 inflasi tercatat 2,97 persen, masih berada dalam rangka sasarannya.

“Meski ditengah terjadinya perlambatan ekonomi, kegiatan usaha perbankan di Bengkulu masih menunjukkan peningkatan. Sementara pada sistem pembayaran,  posisi pengedaran uang kartal di Bank Indonesia mengalami netcash outflow dan trabsaksi RTGS secara agregat mengalami penurunan,” pungkasnya.(400)