Pertamina Pastikan BBM Aman

 

BENGKULU, bengkuluekspress.com – PT Pertamina (Persero) memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Bengkulu aman pada masa tatanan kenormalan baru atau new normal. Amannya pasokan tersebut disebabkan selama pandemi Covid-19, permintaan BBM dari masyarakat mengalami penurunan hingga 30 persen.

Region Manager Communication, Relation & CSR Sumbagsel, Rifky Rakhman Yusuf mengatakan, pihaknya saat ini memiliki pasokan BBM yang cukup, meskipun pihaknya belum dapat memproyeksikan peningkatan konsumsi pada masa tersebut. Pasalnya, pada saat new normal berlangsung, kebutuhan masyarakat terhadap BBM juga akan mengalami peningkatan.

“Pada intinya, Pertamina sudah siap untuk memastikan ketersediaan dan distribusi BBM,” ujar Rifky, Minggu (7/6).

Ia menjelaskan, berdasarkan data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) per 25 Mei 2020, stok premium ada sebanyak 1,39 juta kiloliter (kl), Pertalite 1,34 juta kl, Pertamax 1,31 juta kl, Pertamax Turbo 44.093 kl, Solar 1,75 kl, Pertamina Dex 65.551 kl, Dexlite 44.585 kl, kerosene 78.475 kl. Meski begitu, selama masa pandemi Covid-19, terjadi penurunan permintaan yang tajam pada produk BBM dengan rata-rata penurunan sebesar 30 persen.

“Selama pandemi Covid-19 kita akui ada penurunan permintaan BBM sebesar 30 persen,” tuturnya.

 

Persediaan BBM Pertamina Meningkat

Ia mengungkapkan, kondisi tersebut menyebabkan persediaan BBM Pertamina menjadi meningkat. Karena pasokan yang seharusnya telah habis pada bulan sebelumnya hingga saat ini masih ada. “Hal ini juga meningkatkan biaya inventory Pertamina. Semua karena demand memang tidak ada atau menurun tajam. Hal ini karena sangat rendahnya aktivitas masyarakat dan juga industri banyak yang tutup,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan dampak pandemi yang dirasakan secara global khususnya pada industri migas menyebabkan terjadinya over supply karena permintaan yang menurun akibat rendahnya aktivitas masyarakat. Hal itu mendorong terjadinya penurunan harga minyak mentah dunia, meskipun pada saat ini sudah kembali pada trend naik. Bagi Pertamina, kondisi tersebut telah menyebabkan penurunan nilai aset-aset hulu migas. Oleh sebab itu penurunan pendapatan juga dirasakan oleh sektor hulu. “Namun sektor hulu tetap terus diupayakan berjalan, karena Pertamina harus menjaga dan menjamin ketersediaan energi dan juga menggerakkan ekosistem migas di Indonesia,” tutupnya.(999)