Permudah Permodalan Ekraf

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus berupaya mempermudah memberikan akses permodalan dari Perbankan untuk para pelaku ekonomi kreatif (Ekraf). Hal tersebut dilakukan dengan harapan para Ekraf dapat mengembangkan usahanya masing-masing sehingga pertumbuhan ekonomi benar-benar dapat diwujudkan.

Kasubdit Perbankan Syariah Bekraf, Yuke Sri Rahayu mengatakan, memberikan akses permodalan kepada pelaku ekraf merupakan salah satu tugas Bekraf. Bahkan Bekraf telah bekerjasama dengan perbankan syariah untuk mengatasi permasalahan permodalan yang selalu menjadi kendala para pelaku usaha.

“Kita juga memfasilitasi pelaku ekraf untuk berinteraksi langsung dengan Perbankan Syariah sehingga bisa memperoleh akses permodalan,” ungkap Yuke pada Businer Matching di Hotel Sinar Sport Bengkulu, kemarin (8/5/2018).

Ini dilakukan, lanjut Yuke, agar semakin banyak pelaku ekraf bisa mengakses pembiayaan Perbankan Syariah untuk mengembangkan usahanya. Karena ketika suatu usaha bisa berkembang maka secara langsung telah berkontribusi menumbuhkan ekonomi didaerah tersebut.

“Makanya dari itu sejak awal tadi seiring dengan diberikannya akses permodalan ini, harus diiringi dengan pengembangan usaha oleh masing-masing pelaku ekraf. Supaya bisa berdampak terhadap tumbuhnya ekonomi masyarakat,” tegas Yuke.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Drh Hj Dewi Coryati MSi menilai, UMKM di Provinsi Bengkulu yang bergerak didalam ekraf cukup banyak bahkan mencapai 2.419. Tapi hasilnya masih kurang maksimal berkembang, maka dari itu memang dibutuhkan pendampingan dari Bekraf. Selain itu, pada kesempatan yang sama pihaknya mengundang sebanyak 200 pelaku usaha dengan tujuan agar pelaku ekraf bisa mengakses pembiayaan perbankan syariah dalam mengembangkan usaha.

“Lewat kegiatan yang kita buat ini nantinya pelaku UMKM bisa mengakses pembiayaan serta mengembangkan usaha mulai dari pembuatan kemasan, pengolahan pasca produksi, pemasaran, dan terkahir modal,” kata Dewi.

Hanya saja, lanjut Dewi, terkait modal ini bukanlah hal yang paling utama. Karena tidak sedikit usaha masyarakat setelah diberikan modal malah tidak bisa bertahan.

“Untuk itu pemberian modal ini alangkah baiknya diberikan kepada pelaku ekraf yang sudah bertahan lebih dari 2 tahun. Sehingga usaha yang digeluti bisa terus berkembang,” ujar Dewi.

Ia menambahkan, jika usaha yang bergerak dibidang ekraf itu tidak mampu bertahan 2 tahun, artinya memang tidak patut dipertahankan bisnis yang digeluti tersebut.

“Sebaliknya jika sudah bertahan lebih dari 2 tahun, artinya modal ini bisa berperan maksimal untuk mengembangkan usaha para pelaku ekraf. Dengan begitukan modal yang diberikan berdampak sangat besar sehingga diperlukan pendampingan,” tutup Dewi.

Sementara itu, Asisten Direktur Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu, Christin R Sidabutar mengatakan, pihaknya akan memberikan pendampingan terhadap pelaku usaha dibengkulu. Hal ini dilakukan mengingat prospek UMKM sebagai tulang punggung ekonomi, karena UMKM bisa menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

“Di Provinsi Bengkulu Bank Indonesia, meskipun tidak bisa memberikan dana langsung, tetapi Kita akan dukung melalui pendampingan dan bekerjasama dengan bekraf guna memajukan UMKM di Bengkulu,” tukas Christin. (999)