Perkuat Nilai Pancasila Dalam Dunia Pendidikan

 

IST/BE
SEMINAR NASIONAL: Acara seminar nasional secara virtual yang digelar oleh Organisasi Perhimpunan Mahasiswa Peradilan Semu (PARADISE) Fakultas Hukum Universitas Bengkulu, Kamis (25/6).

BENGKULU, BE – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia tahun 2013-2015, Dr Hamdan Zoelva SH MH menegaskan, pengamalan nilai pancasila harus diperkuat dalam dunia pendidikan. Sebab, dunia pendidikan menjadi pondasi utama untuk mempertahankan ideologi bangsa, lima sila yang terkandung dalam Pancasila.
“Pendidikan pancasila harus jadi satu kesatuan dunia pendidikan kewarganegaraan,” ujar Hamdan dalam seminar nasional secara virtual yang digelar oleh Organisasi Perhimpunan Mahasiswa Peradilan Semu (PARADISE) Fakultas Hukum Universitas Bengkulu, kemarin (25/6).
Diterangkannya, pengenalan pancasila bisa dimulai dengan cara menghafalkan kepada dunia pendidikan. Baik ditingkat dunia pendidikan dasar hingga strata sekalipun. Karena dengan menghafal, menjadi langkah utama, mengenal dan memahami nilai pancasila. Upaya itu harus dilakukan oleh semua pihak. Terutama, para pejabat negara, pemerintahaan dan tingkat paling bahwah sekalupun harus menjadi adressatnya.
“Tidak cukup hanya mengahafal, karena terpenting adalah terwujudkan dalam berbagi kebijakan dan prilaku pemimpin dan pejabat yang mengurus negara,” tambahnya.
Pancasila sangat penting untuk memperkuat pondasi bangas. Pancasila menurut Hamdan harus tetap menjadi khittah bagi perjalanan bangsa. Karena sampai saat ini, nilai pancasila itu belum sepenuhnya terwujdu. Baik itu dalam tindakan politik sampai kebijakan ekonomi bangsa Indonesia.
“Demokrasi pancasila harus terwujud. Demokrasi yang berjalan oleh rakyat yang mandiri secara ekonomi. Karena dalam ekonomi yang kapitalis, tidak ada demokrasi pancasila,” tegas Hamdan.
Disisi lain, Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid yang juga mengisi seminar menegaskan, dunia pendidikan harus melahirkan orang-orang yang kratif, serjana unggul untuk bangsa Indonesia. Termasuk serjana yang benar-benar memahami nilai pancasila.
“Jika tidak mampu menjadi warga negara yang pancasilais, negara pancasilais, tidak mempu menghadapi dampak wabah korona, saya yakin tahun ini akan terjadi low generasi,” ungkap Jazilul.
Nilai pancasila harus menjadi daya perikat warga negara Indonesia, pada masa sulit saat ini. Dampak wabah korona ini sangat mengacam pertumbuhaan ekonomi di Indonesia. Jika tidak siap, maka bangsa ini akan menjadi miskin.
“Semua terdampak. Mulai ekonomi, pendidikan, guru ngaji, petani semua terdampak. Sehingga kita butuh pengikat yang namanya pancasila sebagai dasar hidup kita,” ungkapnya.
Sementara itu, Dekan Hukum Universitas Bengkulu, Dr. Amancik, SH, M.Hum mengatakan, nilai pancasila dalam dunia pendidikan memang harus di implementasikan dalam kehidup sehari-hari. Agar mampu memberikan arahan kepada masyarakat, untuk tidak terjerumus salah penafsiran nilai pancasila.
“Nilai pancasila memang harus diterapkan. Agar menjadi masyarkat yang pancasilais,” ujar Amancik.
Ketua Bidang Eksternal Paradise Bengkulu, Maulana Taslam mengatakan, kegiatan seminar nasional ini, menyikapi dan mengawal sebuah kehidupan baru pasca pandemi covid-19. Mengingat akan banyak sekali pergeseran yang terjadi, seperti halnya di dunia pendidikan. Mahasiswa yang awalnya terbiasa menempuh pendidikan secara tatap muka kemudian harus mulai terbiasa dengan sistem atau pola pendidikan selama masa pandemi yakni secara jarak jauh (daring).
“Sehingga secara terpaksa harus mengikuti perkembangan zaman yang menuntut untuk selalu memahami teknologi dan sistem pendidikan pasca pandemi dengan memulai kehidupan baru atau New Normal,” pungkas Maulana.
Seminar nasional ini diikuti oleh ratusan mahasiswa baik dari Provinsi Bengkulu maupun luar Provinsi Bengkulu. Termasuk masyarkat umum juga mengikuti seminar secara virtual tersebut. Seminar itu juga diisi oleh Direktur Perencanaan dan Kerja Sama Pendidikan dan Pelatihan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Sadono Sriharjo ST MM. (151)