Perjuangan Nelayan Pasar Malabero di Tengah Cuaca yang Tak Menentu

Tidak Ada Pekerjaan Lain, Hujan dan Badai Harus Dilawan Demi Hidupi Keluarga

FOTO SITI/BE – Sorang nelayan Pasar Malabero, Kota Bengkulu, sedang mengumpulkan hasil tangkapan ikan.

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Meskipun kondisi cuaca di Provinsi Bengkulu sedang tidak menentu, terkadang hujan, terkadang panas, sebagian besar nelayan tradisional di Kota Bengkulu, khusus nelayan Malabero, harus tetap melaut. Pekerjaan itu harus dilakukan, selain karena mereka harus menghidupi keluarga, juga karena rata-rata nelayan tidak ada pekerjaan sampingan lainnya.

“Meskipun cuaca tidak bisa diprediksi, kadang saat pergi cuaca cerah, kemudian saat sudah sampai di laut lepas hujan tiba tiba melanda, kami harus tetap melaut. Sebab, tidak ada lagi mata pencaharian kami selain menjadi nelayan,” ungkap Abdul Mutalib (55), seorang nelayan di kawasan Pantai Malabero, saat ditemui BE ketika hendak melaut, Selasa (14/01).

Abdul Mutalib menuturkan, ia bersama para nelayan lainnya tetap melakukan aktivitas penangkapan ikan seperti biasanya. Jika cuaca cerah, mereka berangkat melaut pukul 06.00 WIB sampai pukul 17.30 WIB. Namun jika jika musim hujan, mereka sudah pulang sekitar pukul 16.00 WIB. “Sebab, jika hujan, biasanya hasil penangkapannya berkurang, tidak sebanyak seperti saat cuaca cerah,” ujar Abdul.

Ikan-ikan hasil tangkapan Abdul tersebut kemudian dijual ke pengepul yang berkawasan di Pondok Besi, Tapak Paderi, Kota Bengkulu. Ikana yang biasanya menjadi incaran para nelayan adalah ikan bawal putih yang dijual Rp 250 Ribu perkilonya dan ikan yang berjenis kape-kape, gembulo dijual kisaran Rp 30 ribu perkilonya.
“Hasil penjualannya dibagi kepada teman yang ikut melaut dalam satu perahu, karena perahu yang saya gunakan ini adalah milik sepupu,” tambah Abdul.

Sementara Abdul mengaku, penghasilan yang didapat ketika menjual ikan ke pengepul terkadang tidak tentu, saat cuaca seperti ini terkadang hanya dapat Rp 200 ribu per hari, namun jika cuaca bersahabat bisa mencapai Rp 500 ribu per harinya. Seba itu, Abdul Mutalib berharap cuaca cepat stabil agar kebutuhan pokok keluarganya dapat terpenuhi seperti biasanya.(MG11)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*