Perempuan Tangguh dari Rejang Lebong, Membangun Kedaulatan Pangan di Tengah Pandemi

 

JUMAT sore, (2/10/20). Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Langit mulai diselimuti dengan awan hitam. Udara dingin mulai menghampiri. Di sebuah rumah berwarna dominan putih dan hitam, seorang perempuan berbaju motif kotak hijau toska dan berjilbab warna hitam sedang memeriksa tanaman di belakang rumahnya. Selang waktu 10 menit, dia beralih ke halaman depan dan memetik daun muda singkong untuk dijadikan lauk makan malam.

Perempuan tersebut bernama Kurnia Ningsih. Berusia 33 tahun. Sejak lama dia telah terbiasa memanfaatkan area di sekitar rumahnya untuk bertanam tanaman pangan. Walau tidak begitu luas, namun di area sekitar rumahnya bisa ditemui berbagai macam tanaman pangan. Dengan kebiasaan tersebut, dia tidak merasa khawatir dengan kurangnya bahan pangan seperti yang dicemaskan oleh para pihak terkait dampak Pandemi Covid-19.

“Kalo soal pangan saya tidak begitu pusing karena di sekitar rumah ada tanaman pangan, seperti pucuk (daun muda) ubi (singkong), pucuk katu dan lainnya,” ujarnya sembari memetik daun pucuk ubi.

Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, dia juga sengaja menaman beragam tanaman pangan tersebut untuk menjalin silaturahmi dengan tetangga, khususnya perempuan.

“Saya sering menawarkan tetangga yang kebetulan sedang lewat di depan rumah untuk mengambil sayur. Kalo mereka membutuhkan, ya saya persilakan ambil,” tutur perempuan yang memiliki satu anak laki-laki dan satu anak perempuan yang berdomisili di Desa Sambirejo, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong ini.

Tidak hanya Kurnia Ningsih, Sunarsi Ningsih yang berdomisili di Desa Sambirejo juga terbiasa memanfaatkan area sekitar rumah untuk bertanam beragam tanaman pangan seperti keladi, singkong, jipang, bayam dan lainnya. Oleh karena itu, Sunarsi juga tidak merasa khawatir akan kekurangan pangan.

“Seperti pada masa Pandemi Covid-19 sekarang, tidak ada yang berubah, makan ya makan, sayur habis, ya tinggal mengambil di sekitar rumah,” ujar Sunarsi.

Perempuan Desa Pal VIII, Rita Wati juga memiliki kebiasaan serupa dengan Kurnia Ningsih dan Sunarni Ningsih.

“Di sekitar rumah ditanami beragam tanaman pangan kacang panjang, kacang koro, cipir, kecombrang, pucuk ubi dan masih banyak lagi. Mungkin ada sekitar 50 jenis tanaman pangan,” tutur Rita Wati saat memetik sayur di halaman rumahnya pada Minggu sore (4/10/20).

Selain menanam tanaman pangan, ketiga perempuan tersebut juga menanam beragam tanaman rempah untuk keperluan memasak dan tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan keluarga dan perempuan. Misalnya terkait gangguan saat menstruasi, Kurnia Ningsih sengaja menanam kunyit.

“Saya biasa gunakan parutan kunyit untuk meredakan nyeri haid,” ujar Kurnia.

Dengan demikian, Kurnia tidak harus selalu untuk membeli obat di warung atau apotek, yang umumnya diproduksi menggunakan bahan kimia buatan. Kebiasaan mereka bertanam tanaman pangan, rempah dan obat-obatan di area sekitar rumah juga dinilai membantu untuk mengurangi pengeluaran rumah tangga.

“Di sekitar rumah juga ditanam jahe, laos, serai, kunyit dan lainnya. Jadi untuk sekadar memasak lauk untuk di rumah, tidak harus membeli. Bisa mengurangi pengeluaran,” kata Rita.

Kedaulatan Pangan

Walau terkesan lumrah, namun kebiasaan Kurnia Ningsih, Sunarsih Ningsih dan Rita Wati memanfaatkan area di sekitar rumah bukanlah hal yang biasa. Menurut Pakar Gerakan Perempuan dan Lingkungan Hidup di Universitas Bengkulu Dr. Titiek Kartika Hendrastiti, upaya tersebut termasuk upaya perempuan membangun kedaulatan pangan.

“Bisa makan dan bertahan dari tanaman sendiri di rumah atau kampung itulah yang disebut food sovereignty atau kedaulatan pangan,” tutur Titiek.

 

Intan Yones Astika

*) Penulis adalah salah seorang anggota KPPSWD yang ikut serta dalam workshop Peningkatan Kapasitas Jurnalis Warga dalam Melakukan Peliputan Antisipasi Dampak Covid-19 yang diinisiasi PPMN dan Unesco.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*