Perbankan Tekan Kredit Macet

JAKARTA – Perbankan berupaya menekan tingginya non performing loan (NPL) atay rasio kredit macet (non performing loan/NPL), pasca kebijakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Salah satu caranya dengan menghindari peningkatan bunga kredit di sektor KPR dan KPA, dan mengalihkannya ke sektor komersial dan konsumer non KPR.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Maryono mengatakan, pihaknya untuk sementara menahan kenaikan bunga kredit pada Juli ini. Akan tetapi, sejak awal Agustus mendatang, BTN sudah mulai memberlakukan patokan suku bunga dasar kredit (SBDK) baru untuk merespons naiknya BI Rate sebesar 75 poin.

“Rentang kenaikannya mulai 0,5-1 persen. Namun, suku bunga KPR dan KPA tidak kami naikkan. Yang dinaikkan di luar itu, seperti kredit komersial dan kredit konsumer non KPR,” jelasnya pada pemaparan kinerja semester pertama 2013, di Gedung BTN, kemarin (23/7).

Maryono mengaku, pihaknya memilih strategi tersebut untuk membatasi laju NPL yang saat ini melejit, hingga nyaris menyentuh batas atas 5 persen. Pada akhir semester pertama tahun ini, BTN mencatatkan gross NPL mencapai 4,63 persen, atau naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar 3,46 persen.

Kenaikan NPL tersebut, kata Maryono, salah satunya dipicu lantaran kredit di sektor KPR subsidi. Kredit properti bersubsidi saat ini berperan sangat signifikan lantaran berkontribusi sebesar 45,4 persen dari total kredit BTN yang mencapai Rp 91,40 triliun.

“Kami akan lakukan restrukturisasi kredit KPR subsidi karena peningkatan NPL tersebut. Kemampuan end user akan kembali kita nilai,” paparnya.

Selain dari sisi kredit KPR bersubsidi, NPL yang tinggi juga disumbang oleh kredit di sektor komersial. NPL yang terjadi pada kredit komersial lantaran BTN masih menunggu pencairan klaim asuransi kredit.

“Nasabah kredit komersial terdampak kondisi ekonomi yang tidak stabil, serta laju inflasi yang cukup tinggi. Namun, kondisi tersebut telah kami asuransikan. Sehingga sekarang tinggal menunggu penggantian klaim. Karena itu, kami yakin gross NPL dapat turun signifikan,” jelasnya.

Jika faktor-faktor tersebut dapat ditekan, Maryono meyakini pihaknya dapat meraih target NPL yang lebih rendah pada akhir tahun. “Proyeksi gross NPL kami kurang lebih 3,2 persen, dan tentunya net NPL bakal lebih rendah lagi. Akhir tahun lalu, net NPL kami 2,42 persen,” terangnya.

Sepanjang semester pertama tahun ini, BTN masih konsisten pada core business dalam pembiayaan industri perumahan. Porsi pembiayaan pada kredit perumahan masih mendominasi dengan share 86,12 persen atau sebesar Rp 78,72 trilun dari total kredit yang disalurkan perseroan. Sisanya, sebesar Rp 12,68 triliun (13,88 persen) disalurkan untuk pembiayaan kredit non perumahan.

“Kontribusi kami dalam penyaluran FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan)secara nasional mencapai 98 persen pada akhir tahun lalu,” terangnya.

Di sisi lain, untuk saat ini Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) juga masih belum mengindikasikan kenaikan suku bunga kredit merespon peningkatan BI Rate. Justru, ada penurunan bunga kredit dari tiga sektor yang disasar oleh BTPN.

Misalnya kredit ritel pada Juni yang turun menjadi 16,26 persen dari Mei yang sebesar 16,29. Sementara kredit mikro turun dari 18,38 persen per Mei menjadi 18,26 persen per Juni. “Kredit konsumer non KPR BTPN turun menjadi 17,40 persen dari 17,51 persen.

“Kami masih fokus dan konsisten menggarap sektor mikro dan kecil. Kredit kami di segmen ini tumbuh 27 persen year on year (yoy) menjadi Rp 43,6 triliun. Tapi kami tetap berhati-hati terhadap NPL nettonya di angka 0,39 persen pada akhir Juni 2013, meski lebih rendah dari akhir Juni 2012 sebesar 0,43 persen,” terang Direktur Utama BTPN Jerry Ng. (gal)