Perangi Kemiskinan Terhadap Perempuan

DENDI - Suasana Jambore Perempuan Penggiat Komunitas se Sumatera, dihari kedua, kemadin  (4)Hari ke dua Jambore Perempuan Penggiat Komunitas se-Sumatera

Jambore Perempuan Penggiat Komunitas se-Sumatera di Hotel Nala Sea Side, Pantai Panjang Bengkulu di hari ke dua kemarin (6/5) berlangsung khidmat dan meriah. Dihari ke dua ini kegiatan difokuskan pada pembahasan progam Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan (MAMPU), yang dilanjutkan dengan diskusi refleksi peneguhan kerja-kerja komunitas perempuan. Berikut laporannya.

DENDI SUPRIADI, Kota Bengkulu

SEKITAR pukul 08.30 WIB pagi kemarin, suasana di aula pertemuan Hotel Nala Sea Side, Pantai Panjang Bengkulu sudah dipadati 114 peserta Jambore Perempuan Penggiat Komunitas se-Sumatera. Mengawali kegiatan tersebut, peserta diminta untuk mereview kembali pembahasan materi dihari sebelumnya. Ini bertujuan untuk melatih daya ingat peserta terhadap ragam materi yang sudah disampaikan.
Kegiatan ini juga terasa semakin dan penuh keceriaan karena diselingi Games Team Building yang dipandu oleh host kocak, Desti Murdjana.
Usai refleksi, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang Program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan) oleh Lizabet, perempuan berkebangsaan Inggris namun sudah 5 tahun menetap di Indonesia.
MAMPU sendiri merupakan salah satu komunitas perempuan yang fokus membahasa isu perempuan korban kekerasan dan memiliki program untuk mengentaskan kemiskinan pada perempuan Indonesia.
Setidaknya ada 5 program MAMPU yang dipaparkan dalam kesempatan itu, yakni Meningkatkan akses perempuan terhadap program-program perlindungan sosial, meningkatkan akses perempuan pada pekerjaan serta menghilangkan diskriminasi di tempat kerja, memperbaiki kondisi untuk migrasi tenaga kerja perempuan ke luar negeri, Memperkuat kepemimpinan perempuan dalam meningkatkan kesehatan ibu dan kesehatan reproduksi dan memperkuat kepemimpinan perempuan dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan.
“Kegiatan seperti ini sangat penting karena kita tahu bahwa angka kekersan di Indonesia sangat tinggi sekali,” kata Lizabet dengan terbata-bata karena belum lancar berbahasa Indonesia.
Ia menyebutkan, program MAMPU adalah program besar untuk menanggulangi kemiskinan yang desaign dengan melakukan pendekatan kepada organisasi dan membentuk jaringan-jaringan kuat nasional dan internasional.
Program tersebut dijalankan dengan mempedomani 5 program utama MAMPU tersebut agar bisa menanggulangi kemiskinan. Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan juga dilatarbelakangi kemiskinan yang dialami oleh perempuan tersebut, seperti hanya tidak memiliki penghasilan lain, tidak memiliki kreativitas, dan tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
“Melalui program MAMPU ini banyak hal yang dilakukan, seperti membekali dan melatih perempuan untuk berkreativitas yang bisa menjadikan perempuan mandiri dan memiliki banyak keahlian sehingga tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain,” ujarnya.
Melalui jambore tersebut, ia juga mengajak komunitas perempuan untuk terus menanggulangani kemiskinan dengan cara menumbuhkan keinginan dari dalam diri perempuan. Karena pada dasarnya perempuan adalah makhluk yang multi talenta dan potensi, namun kadang-kadang tidak digunakan dengan sempurna sehingga potensi tersebut dibiarkan terpendam.
“Perempuan itu menjadi miskin karena tidak mau berusaha dan mencoba, serta minimnya pengetahuan yang dimilikinya. Jika perempuan itu mau berusaha, dipastikan tidak ada yang miskin,” imbuhnya lagi.
Usai makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan Cerdas Cermat tentang Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP), Perempuan Bicara tentang Pengorganisasian dan Evaluasi Harian. Selanjutnya malam tadi diteruskan dengan Diskusi Kelompok perwilayah tentang upaya pencegaham KTP dan Sharing Hasil Diskusi Kelompok. (**)