Perahu Terbalik, Nelayan Nyaris Tewas

 

IRUL/BE
EVAKUASI: Nelayan setempat saat melakukan evakuasi perahu milik Mahdi yang terbalik di sekitar pelabuhan Linau, Minggu (7/6).

 

MAJE, Bengkuluekspress.com – Gelombang tinggi di  perairan Pesisir Selatan nyaris menelan korban jiwa, Minggu (7/6). Sebab hantaman ombak besar membuat perahu nelayan bernama Mahdi (45) Desa Linau Kecamatan Maje Kabupaten Kaur terbalik dan nyaris menewaskan korban.

Beruntung dalam insiden itu yang bersangkutan selamat namun seluruh alat tangkap hilang sementara perahu mengalami kerusakan ringan.

Data terhimpun BE, peristiwa naas yang nyaris menimpah nelayan Linau itu terjadi sekitar pukul 09.30 WIB, bermula dari korban berniat masuk pelabuhan pulang dari memancing ikan Minggu (7/6) dan tiba tiba digulung ombak saat akan mendarat.

Beruntung saat itu sejumlah nelayan lain dengan sigap membantu yang bersangkutan sehingga langsung diselamatkan rekan-rekannya.

Sedangkan beberapa ikan yang sempat terjatuh ke laut dalam tempat yang aman akhirnya dapat diselamatkan.

“Saya itu ingin masuk pelabuhan, tiba tiba ada ombak dari belakang menimbun perahu dan perahu saya terbalik, alat tangkap saya hilang,” ujar Mahdi, kemarin (7/6).

Dikatakannya, ini terjadi karena sempitnya pintu masuk pelabuhan yang mana pihaknya saat cuaca buruk mengalami kesulitan sehingga disaat cuaca buruk maka perahu mereka agak sulit masuk dalam pelabuhan yang baru saja dibuat dalam dua tahun terakhir.

Saat ini nelayan berharap ada pembukaan pintu masuk dengan pengerukan alur masuk perahu sehingga mereka bisa bebas mendarat.

“Sempat dikeruk dua tahun yang lalu oleh alat berat perusahaan yang membangun talut, tapi ini kurang lebar dan juga sudah banyak yang tertimbun,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Linau, Agustiawan membenarkan masih sempitnya pintu masuk pelabuhan perahu dayung itu, menurut Kades hingga kini beluma ada pengerukan ulang pasca dibantu dilakukan pengerukan oleh pihak perusahaan berapa tahun yang lalu.

Nah bukan hanya sempit pintu masuk, namun juga tekanan air laut membuat abrasi disejumlah belakang rumah pemikuman penduduk.

“Selain pintu masuk alur perahu dayung perlu pelebaran juga dibutuhkan talud dibelakang rumah penduduk yang memang sata dibutuhkan saat ini,” tandas Kades. (618)