Penyakit Tidak Menular Meningkat

RIO/Bengkulu EkspressKESEHATAN: Menteri Kesehatan RI Nila Farid Moeloek bersama Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, Kadis Kesehatan Provinsi Bengkulu Herwan Antoni dan para undangan mengikuti gerakan senam Germas yang diperagakan dalam pembukaan kegiatan Rapat Kerja Kesehatan daerah Provinsi Bengkulu tahun 2019 di Auditorium Poltekes Kemenkes Bengkulu, Jumat (14/3).

Menkes: Karena Perubahaan Gaya Hidup

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Menteri Kesehatan (Menkes) Prof Dr dr Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek SpM menegaskan, penyakit tidak menular meningkat angkanya secara nasional. Bahkan untuk Provinsi Bengkulu, angka penyakit tidak menular itu sampai 70 persen hampir sama dengan angka nasional.

Penyakit tidak menular itu seperti, stroke, penyakit jantung dan diabetes melitus (DM) menduduki posisi tertinggi. Belum lagi ditambah dengan penyakit gagal ginjal, kencing manis dan penyakit tidak menular lainnya. “Penyakit tidak menular ini memang tren nya mengalami kenaikan,” terang Nila dalam Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) kaloborasi provinsi dan kabupaten/kota dengan dukungan pusat, di Aula Poltekkes Kemenkes Bengkulu, kemarin (14/3).

Dijelaskannya, terjadinya peningkatan penyakit tidak menular itu karena dipengaruhinya dengan perubahaan gaya hidup. Tingkat kesejahteraan masyarakat membuat perubahaan gaya hidup tersebut dilakukan. Akibatnya, obesitas terjadi, kehilang hari tidak produktif membuat pola hidup tidak sehat.

“Saya katakan hidup masyarakat Indonesia sudah sejahtera. Karena gaya hidup kita berubah. Jadi masalah sekarang tidak hanya stunting dan kekurangan gizi saja, tapi obesitas jadi perhatian,” ungkapnya.

Dampak dari itu semua, umur keberlangsungan hidup itu orang Indonesia hanya sampai 69 tahun untuk laki-laki. Sementara perempuan lebih lama, sampai 74 tahun. Namun dari batas umur itu, umur sehat hanya sampai 62 tahun. Sisanya, kondisi badan seseorang itu sudah sakit-sakitan. Panyakit itu rata-rata penyakit tidak menular. “Di Bengkulu batas umur laki-laki sama dengan perempuan. Ini bagus, bisa kita katakan laki-laki bahagia itu ada di Bengkulu. Kalau di NTB itu, perempuannya yang banyak panjang umur,” tambah Nila.

Jika dibanding dengan Negara Singapura, Indonesia lebih baik. Karena batas umur di Singapura itu hampir sama dengan di Indonesia, hanya saja batas umur dengan katagori sakit-sakitan itu sampai 10 tahun. “Kanapa ini terjadi, sama karena ada perubahaan gaya hidup. Untuk itu kita harus hati-hati. Kita berupaya agar tua itu tetap sehat,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Nila juga menyoroti angka imunisasi di Bengkulu menjadi percontohaan untuk provinsi lain. Sebab, angka realisasinya imunisasi itu sampai 97 persen. Bisa teralisasi itu karena ada dukungan dari gubernur dan bupati/walikota sebagai pendorong kebijakan. “Bengkulu bisa jadi contoh provinsi lain,” ujar Nela.

Terkait, Rakerkesda, Nela menegaskan, program yang sudah dibahas dan dibakukan masing-masing daerah itu harus direalisasikan. Tentunya juga program itu harus tersinkronisasi antara daerah satu dengan daerah lainnya. Pemerintah pusat, menurut Nela tetap akan mendukung, agar pelayanan kesehatan itu bisa dirasakan oleh masyarakat. “Programnya bagus, perhatianya dengan kesehatan sangat baik sekali. Ini tentu harus kita dorong bersama-sama,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Keseharan (Dinkes) Provinsi Bengkulu, H Herwan Antoni SKM mengatakan, dalam Rakerkesda itu Bengkulu memiliki rencana aksi. Rencana itu seperti meningkatan cakupan dan mutu imunisasi. Lalu percepatan eliminasi TB, perceparan penurunan stunting, peningaktan pencegahaan dan pengendalian penyakit tidak menulis (ptm) dan percepatan penurunan angka kematian neonatus (AKN) dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). “Program ini tentu akan disinkronisasikan dengan kabupaten/kota sebagai pemilik wilayah dan masyarakat,” ujarnya.

Tidak hanya itu, untuk memudahaan pasien dirusuk ke Rumah Sakit (RS). Herwan menegaskan, dengan kecanggihaan teknologi, pada 1 April nanti, semua RS di Bengkulu sudah terintegrasi melalui sisten rujukan secara online. Sehingga masyarakat tidak lagi kesulitan untuk mendapat rusukan ke RS. “Kami berkomitmen, 1 April nanti semua RS sistem rujukannya sudah terintegrasi menggunakan sistem online,” paparnya.

Disisi lain, Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah mengatakan, kesehatan merupakan kebutuhaan dasar seseorang. Karena sehat sangat berperan utama untuk menjadikan masyarakat sejahtera. “Dokumen recanana kesehatan ini sangat penting sekali untuk ditindaklanjuti. Jangan sampai tumpukan yang indah seperti duan pisang itu hanya tulisannya saja yang bagi, tapi realisasinya tidak berjalan,” terang Rohidin.

Fungsi koordinasi itu, menurut Rohidin sangat penting untuk dilakukan. Agar kabupaten/kota bisa bersinergi, tidak bergerak sendiri-sendiri. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu dalam mendukung menciptakan masyarakat sehat, sudah membuat peraturan daerah (perda) kawasan tanpa rokok. Begitupun dengan membuat Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) juga telah dilakukan. “Kita ingin, masyarakat sehat itu menjadi budaya,” tambahnya.

Dalam Rakerkesda itu, Rohidin, juga meminta Menkes mengambil alih pengelolahaan Rumah Sakit Jiwa Ketergantungan Obat Soeprapto (RSJKO), yang selama ini dikelolah oleh pemprov Bengkulu ke pemerintah pusat. Karena selama ini dengan keterbatasan anggaran, RSJKO belum berjalan secara maksimal. Bahkan untuk dokter spesialis jiwanya saja cuma satu orang, itupun hanya tenaga kontrak. Dengan dikelolah pemerintah pusat, maka RSJKO bisa menjadi RSJKO regional sumatera. “Ketika jadi RS regional, maka Bengkulu menjadi provinsi rujukan,” tutur Rohidin.

Tidak hanya itu saja, terkait lahan dan rumah dinas yang dihuni oleh Kepala Dinkes Provinsi yang berada di lahan milik Kemenkes, bisa diserahkan ke Pemprov Bengkulu. “Upaya ini sudah lama, rapat-rapat dilakukan, tapi tidak ada hasil. Kita minta ini bisa dilakukan kedepannya,” pungkasnya. (151)