Penumpang Bus AKAP Sepi

DOK/BE
Mobil SAN yang selalu melayani penumpang antar kota antar provinsi (AKAP).

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha, penumpang bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) ke Bengkulu justru sepi. Bahkan, jumlah penumpang hanya sebanyak 5-10 orang per bus. Direktur PT SAN sekaligus Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan mengatakan, sejak ada penerapan new normal, penumpang keberangkatan lebih banyak daripada penumpang kedatangan. Penumpang keberangkatan yang dimaksud yakni penumpang yang melakukan perjalanan dari Bengkulu menuju wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Sementara penumpang kedatangan adalah penumpang yang datang ke Bengkulu dari daerah lain.

“Penumpang bus ke Bengkulu selalu sepi, bahkan jumlahnya sedikit dibandingkan yang keluar Bengkulu,” kata Sani, kemarin (22/7).

Ia menjelaskan, selama kurun waktu 7 Juni 2020 hingga 21 Juli 2020, jumlah penumpang keberangkatan rata-rata sekitar 1.000 orang. Sementara itu, jumlah penumpang kedatangan rata-rata berjumlah sekitar 600 orang. Detailnya, antara 300 orang hingga 800 penumpang.

“Kalau dibandingkan antara keberangkatan dengan kedatangan, yang berangkat lebih banyak daripada yang datang ke Bengkulu,” jelas Sani.

Ia mengatakan, hingga saat ini belum ada peningkatan penumpang yang diangkut bus AKAP Bengkulu. Menurutnya, kondisi saat ini justru sepi. Bahkan akhir-akhir ini satu bus hanya berisi penumpang sekitar 5 hingga 10 orang penumpang yang datang ke Bengkulu.

“Penumpang masih sepi kalau yang datang. Kalau yang berangkat banyak,” ungkapnya.

Ia memperkirakan, jumlah penumpang yang datang ke Bengkulu akan naik satu atau dua hari jelang Hari Raya Idul Adha. Dia masih yakin, meski di tengah pandemi, masih ada masyarakat yang pulang ke Bengkulu dengan naik bus pada momentum tersebut.

“Ini belum ada peningkatan penumpang. Kemungkinan satu hingga dua hari sebelum Idul Adha baru ada lonjakan. Karena hari rayanya pada Jumat, akhir pekan,” tutupnya.

Sementara itu, Direktur PO Putra Rafflesia, William Suliawan mengatakan, selama pandemi Covid-19, frekuensi perjalanan ke dalam kota sangat berkurang, begitu juga penumpang bus AKAP. Kendati begitu, sejumlah sopir bus ini tetap nekat beroperasi meskipun tak mendapat keuntungan dan malah mengeluarkan lebih banyak uang alias nombok.

“Sopir bus tetap menarik penumpang meskipun menanggung beban berat operasional yang tidak sedikit. Beberapa hari terakhir, ada sopir hanya mendapatkan Rp 80 ribu. Padahal, untuk operasional, seperti beli solar, membutuhkan biaya Rp 200 ribu,” katanya.

Ia berharap, agar situasi dan kondisi pandemi korona segera berakhir agar moda transportasi berjalan normal. Pasalnya jika kondisi ini terus terjadi maka dapat dipastikan pengusaha angkutan bus akan mengalami kerugian.
“Kami berharap pandemi ini segera berakhir dan kondisi bisa kembali seperti dulu lagi,” tutupnya.(999)