Penulis Bengkulu dan Bali

Berjilbab, Ira Diana penulis asal Kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, saat acara launching buku berjudul "Embara Embun Mimpi.
Berjilbab, Ira Diana penulis asal Kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, saat acara launching buku berjudul “Embara Embun Mimpi.

Hasilkan Embara Embun Mimpi

Bengkulu bisa berbangga dengan hadirnya karya buku berjudul “Embara Embun Mimpi.” Di dalam buku ini banyak tertulis keindahan alam dan panorama Bengkulu berpadu dengan keindahan panorama Bali. Menariknya lagi buku ini hasil karya perpaduan penulis buku asal Bengkulu Ira Diana dan penulis dari Bali I Gusti Made Dwi.

Endang Suprihatin, Kota BengkuluIra Diana, penulis asal Bengkulu ini namanya sudah tidak asing lagi di kalangan penulis. Ira yang juga berprofesi sebagai pengajar ini telah banyak menerbitkan buku. Sebagai penulis, perempuan kelahiran Curup, Rejang Lebong ini, telah menerbitkan novel, naskah drama untuk Pusat Kurikulum dan Perbukuan, dan beberapa antologi cerpen bersama, buku Gerakan Literasi Nasional, buku cerita anak, buku Bunga Rampai Lembaga Sensor Film, dan buku puisi.

Karya yang ditulisnya dalam menulis buku yang cukup langka di Indonesia. Buku tersebut merupakan buku puisi berilustrasi lukis tangan dengan tinta cina
Kali ini dia berkolaburasi dengan penulis Bali I Gusti Made Dwi Guna melahirkan karya unik berjudul “Embara Embun Mimpi.”

Lebih lanjut dikatakan Ira, beberapa panorama yang berhasil dibukukan antara lain puisi tentang Pantai Panjang, Bunga Raflesia, Tapak Paderi, Kampung China, Bukit Barisan dan juga Benteng Marlborought. Pesona alam Bengkulu dalam puisi-puisi hariku tersebut dapat menjadi salah satu nilai tambah mengenalkan budaya dan alam yang ada di Bengkulu melalui karya sastra.

Buku itu berpijak pada kosmologi lingkungan. Karena Ira merasa besar dan tumbuh di Bengkulu, tentu hal yang utama ingin dia tuliskan adalah panorama Bengkulu. Potensi Bengkulu, menurut Ira, perlu dikenal dan dipelajari generasi muda, salah satunya melalui karya sastra. “Ini kan puisi pendek jadi mudah dipahami dan dimengerti maksudnya. Serta ilustrasi yang ada membuat pembaca dan penikmat puisi merasa tidak beban membaca teks melulu seperti buku puisi yang sudah banyak ada. Kalau bukan saya yang putri Bengkulu, siapa lagi yang wajib menuliskan hal itu,” katanya lebih lanjut.

Kepada BE Ira Diana menceritakan, buku yang baru saja dirilis tersebut telah mendapatkan surat persetujuan untuk mendapatkan rekor MURI, sayangnya dengan alasan administrasi, kedua penulis tersebut enggan melanjutkan perhelatan tersebut.

Rekor itu tentunya dikarenakan buku Embara Embun Mimpi, buku unik yang jarang ada di Indonesia. Buku yang keseluruhan puisinya terdapat lukisan tangan. Peluncuran dan bedah buku keduanya dilaksanakan pada Sabtu, 20 Januari 2018 lalu di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat. Sekaligus memberikan secara langsung kepada kepala PDS HB Jassin.

Saat acara bedah buku berlangsung hadir pula dua pembicara Narudin sang kritikus dan sastrawan, serta Yusuf Susilo Hartono yang merupakan pelukis, wartawan dan pimred majalah. Mereka membahas tuntas karya duo penulis Bengkulu dan Bali itu. Peserta yang hadir sekitar 50 orang. Terdiri dari kalangan penulis, kampus/ mahasiswa, asosiasi, masyarakat umum, penerbit dan juga penyair.

Menurut Ira, buku ini dapat pula dijadikan rujukan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, dinikmati oleh para penyair bahkan orang awam sekalipun, karena dengan keunikan ilustrasi lukisan dalam puisi pendeknya, membuat puisi jenis haiku ini mudah dipelajari, pahami dan dinikmati.

Proses kreatif buku itu lahir karena ide keduanya ingin menerbitkan buku di awal tahun 2018. Proyek suka-suka ini, direncanakan sejak November 2017 hingga peluncuran pada Januari 2018. Proses kreatif yang cukup singkat. Karena sesungguhnya, setelah dikonfirmasi, tidak mudah menyatukan ide dari keduanya.

Faktor jarak, komunikasi, dan karakter kedua penulis ini cukup berbeda menjadi hambatan kecil bagi mereka. Hal ini wajar karena adat budaya dan sebagainya tentu melatarbelakangi perbedaan. Tapi, akhirnya mereka berhasil menyatukan hal-hal tersebut menjadi karya yang begitu indah dan unik.

Rupanya, setelah peluncuran pun mereka diundang untuk mengisi talkshow di Rangkasbitung bersama dengan Maman Suherman yang kita kenal dalam acara ILK dan Dr Firman Hadiansyah, Ketua FTBM Indonesia. Bengkulu lagi-lagi menggema hingga ke tanah Banten. (**)