Pengungsi Lamsel Mulai Pulang ke Rumah

WAY PANJI – Isak tangis mewarnai kedatangan pengungsi di Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji, Senin (5/11) sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah beberapa hari menginap di tempat pengungsian di gedung Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling, sekitar 2.053 pengungsi dari Desa Balinuraga dan Sidoreno, Kecamatan Way Panji dipulangkan kembali ke rumahnya masing-masing.

Rombongan pengungsi pertama, dengan menggunakan bus milik Pemerintah Provinsi Lampung dan Brimob Polda Lampung, mendapat pengawalan dari Marinir Piabung. Pengungsi sebanyak 105 orang ini, ditampung di Bale Banjar dan disambut Tokoh Adat, I Wayan Gambar, Asisten Bidang Kesra, Ir. Hi. Jamal Naser.

Jamal Naser mengatakan, pihak Pemerintah Kabupaten telah mendirikan dapur umum bagi masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, posko kesehatan dan posko yang lainnya juga telah didirikan untuk memudahkan warga dalam mendapatkan pelayanan.

“Ada dapur umum yang melayani masyarakat dan kami juga siap memberikan bantuan bahan makanan kalau masyarakat itu ingin memasak sendiri. Tenda-tenda juga sudah siap dan telah terpasang 48 unit di rumah-rumah warga yang terbakar. Kalau masih kurang, masih kita siapkan dan memang belum terpasang semua, karena kita tidak tahu berapa jumlah pengungsi yang sudah kembali,” kata Jamal Naser.

“Kita juga ikut membantu warga di Desa Agom yang membutuhkan bantuan sembako dan tidak hanya di Waypanji saja. Karena di Way Panji yang kondisinya sangat berat, maka disinilah kita dirikan posko. Bisa dilihat sendiri lah keadaannya, banyak rumah yang terbakar dan tidak bisa ditempati lagi. Ini yang masih dilakukan inventarisir oleh Tim lain dalam masalah ini,” imbuhnya.

Putu Pande Puniatmaja (35) yang mengurusi pengungsi Balinuraga dan Sidoreno mengatakan, rombongan pengungsi yang kembali pulang dilakukan secara bertahap. Setelah tiba di tempat penampungan sementara, pengungsi dipersilahkan melihat rumahnya. Pengungsi juga telah disediakan tenda darurat yang bisa digunakan untuk berteduh.

“Setelah ada jaminan keamanan dan tidak akan terjadi bentrokan lagi, warga mulai diperbolehkan untuk kembali ke rumah masing-masing. Karena mereka masih trauma melihat kejadian yang belum lama terjadi, sementara ditampung di rumah-rumah saudaranya yang rumahnya tidak terbakar. Kalau mereka mau membersihkan bekas rumah, Pemerintah telah menyediakan tenda-tenda darurat yang bisa ditempati,”kata Putu Pande.

Nyoman Nandre (50) salah seorang pengungsi yang rumahnya terbakar, masih nampak shock saat melihat rumahnya ludes terbakar. Ia tidak bisa berkata-kata banyak selain hanya diam dan pasrah melihat kejadian yang menimpanya. “Isteri saya yang masih shock saat melihat rumah sudah hancur semua. Kami sebenarnya tidak tahu apa-apa dengan kejadian tersebut, tetapi kenapa sampai terjadi seperti ini,”ujarnya lirih. (gus)