Pengangguran Tembus 23.287 Orang

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Angka pengangguran di Provinsi Bengkulu terus bertambah.

Peningkatan jumlah pengangguran dari tahun ketahun tersebut berbanding terbalik dengan peningkatan jumlah tenaga kerja asing (TKA) yang masuk ke Bengkulu yang telah mencapai 500 orang pertahun.

Data Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Bengkulu menunjukkan jumlah pengangguran atau pencari kerja tahun 2017 mencapai 19.197 orang. Kemudian pada tahun 2018 ini jumlah naik menjadi 23.287 orang (lihat grafis).

Asisten I Setdaprov Bengkulu Bengkulu, Drs Hamka Sabri MSi mengatakan, tingginya angka pengangguran ini memang menjadi perhatian serius pemerintah. Salah satunya dengan membuka lapangan pekerjaan baru.

“Lapangan pekerjaan baru ini memang dibutuhkan untuk mengatasi angka pencari kerja,” terang Hamka kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (4/5/2018).

Ditegaskannya, selain membuka lapangan pekerjaan baru, pemprov juga telah menginstruksikan Disnakertrans Provinsi untuk memetakan kebutuhaan SDM seperti apa yang diperlukan oleh pelaku usaha. Sehingga SDM tersebut bisa disiapkan melalui berbagai bentuk pelatihan.

“Ini juga perlu disurvei dahulu, perusahaan itu butuh tenaga seperti apa. Jangan nanti setelah dilatih, ternyata lapangan pekerjaanya tidak tersedia,” tambahnya.

Disamping itu, pemprov juga akan terus melakukan pelatihaan terhadap pencari kerja. Karena skill individual itu harus dilatih, sehingga benar-benar siap terjun ke dunia kerja.

Selain itu, pemprov juga telah menjalin kerjasama dengan Jepang untuk magang ke negara tersebut. Ini juga bentuk untuk mengurangi pengangguran di Bengkulu.

“Kita akan terus berupaya agar pengangguran kita bisa berkurang,” papar Hamka.

Sementara itu, terkait banyaknya TKA masuk Bengkulu, Hamka mengatakan, hal itu juga menjadi problem. Namun demikian, masuknya TKA itu tidak bisa dibatasi sesuai dengan UU Ketenagakerjaan.

“Ini juga menjadi kendala. Karena tidak ada pembatasan TKA masuk,” terangnya.

Meski tidak ada pembatasan TKA masuk Bengkulu, Hamka menegaskan, pelaku usaha bisa tetap memprioritaskan masyarakat lokal sebagai pekerja dibandingkan TKA. Kalau semuanya diambil dari asing, maka tenaga lokal tidak bisa berkembang.

“Tenaga lokal itu harus tetap dibutuhkan. Karena untuk meningkatkan kesejahteraan itu dari pekerjaan. Jika sudah diambil oleh asing semua, maka lokal dapat apa? Ini yang memang harus jadi perhatian dan catatan kita bersama,” tandas Hamka. (151)