Penduduk Miskin Turun

Data
Sumber: Diolah dari data Susenas, September 2017 dan Maret & September 2018

Persentase Periode September 2017-2018

BENGKULU,Bengkulu Ekspress – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat persentasekemisikinan di Provinsi Bengkulu. Secara umum, pada periode 2009–September 2018 tingkat populasi kemiskinan di Provinsi Bengkulu mengalami penurunan baik dari sisi jumlah maupun persentasenya, perkecualian pada tahun Maret 2013, dan Maret 2015.

Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode tersebut dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Perkembangan tingkat kemiskinan tahun 2009 sampai dengan September 2018 (lihat Grafik) Kepala BPS Provinsi Bengkulu Dyah Anugrah Kuswardani menjelaskan, perkembangan Tingkat Kemiskinan September 2017-September 2018, jumlah penduduk miskin di provinsi Bengkulu pada September 2018 mencapai 303.545 orang. Terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin sebesar 923 orang dibandingkan September2017. Sementara dengan Maret 2018 jumlah penduduk miskin bertambah sebanyak 1.731 orang.

Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode September 2017–September 2018, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebesar 413 orang sedangkan daerah perdesaan naik sebesar 1.335 orang. “Persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 15,41 persen menjadi 14,94persen. Begitu juga di perdesaan turun dari 15,67 persen menjadi 15,64 persen,” jelasnya.

Dyah menambahkan, dilihat dari perubahan garis kemiskinan September 2017-September 2018, garis kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Selama periode September 2017–September 2018, Garis Kemiskinan naik sebesar 6,34 % yaitu dari Rp 462.768,- per kapita per bulan pada September 2017 menjadi Rp 492.115,- per kapita per bulan pada September 2018.

“Sementara pada periode Maret 2018–September 2018, Garis Kemiskinan naik sebesar 2,22 persen, yaitu dari Rp 481.425,- per kapita per bulan pada Maret 2018 menjadi Rp492.115,- per kapita per bulan pada September 2018,” katanya.

Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), bahwa peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada September 2018 sebesar 74,55 persen.

Pada September 2018, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada GK baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya hampir sama. Beras yang memberi sumbangan sebesar 17,57 persen di perkotaan dan 24,23 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua terhadap GK (13,32 persen di perkotaan dan 12,59 persen di perdesaan).

“Komoditi lainnya adalah daging ayam ras (4,34 persen di perkotaan dan 2,22 persen di perdesaan), telur ayam ras (4,02 persen di perkotaan dan 3,23 di perdesaan) dan seterusnya. Komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada GK perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, listrik, bensin, pendidikan,” katanya.

Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

“Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan pemerintah juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan,” katanya.

Pada periode September 2017 – September 2018, Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan mengalami penurunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan pada September 2017 sebesar 2,76 dan pada September 2018 sebesar 2,35. Demikian juga dengan Indeks Keparahan Kemiskinan mengalami penurunan dari 0,71 menjadi 0,52 pada periode yang sama.

Begitu juga apabila dilihat pada periode Maret 2018–September 2018 Indeks Kedalaman Kemiskinan mengalami penurunan yaitu dari 2,59 menjadi 2,35 sedangkan indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0,61 menjadi 0,52. Dyah mengatakan, apabila dibandingkan antara daerah perkotaan dan perdesaan, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan di daerah perdesaan lebih tinggi daripada di daerah perkotaan. Pada September 2018, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan untuk daerah perkotaan sebesar 2,18 sementara di daerah perdesaan sebesar 2,43. Sementara itu nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan adalah 0,42 sedangkan di daerah perdesaan mencapai sebesar 0,56. (100)