Penderitaaan Warga Desa Genting Belum Berakhir

Rumah Dipenuhi Lumpur, 16 Hari Tidur Di Tenda

BANG HAJI, Bengkulu Ekspress – Penderitaan warga di Desa Genting, Kecamatan Bang Haji, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) belum berakhir. Pasca banjir besar 16 hari lalu, 300 warga yang berasal dari 107 Kepala Keluarga (KK) masih menginap di tenda pengungsian. Warga terpaksa menginap di tenda darurat yang terletak di perkebunan sawit dengan posisi lebih tinggi dari atas pemukiman warga.

Dalam kondisi saat ini, warga terpaksa hidup dalam kondisi seadanya. Warga mendapatkan makanan dari bantuan Pemda Benteng serta relawan dari berbagai daerah.  Baik itu dari Kabupaten Benteng, Kota Bengkulu dan bahkan dari luar daerah. Tak hanya itu, warga juga mengalami kesulitan ketika hendak buang air besar (BAB). Betapa tidak, tenda pengungsian yang telah berdiri tak dilengkapi dengan fasilitas berupa WC umum.

Kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini menimbulkan rasa peduli dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah bantuan dari komuonitas nasional, Wahana Muda Indonesia (WMI). Bersama 10 orang personelnya, WMI secara swadaya membangun WC yang lebih nyaman dan representatif.



“Kami sudah 3 hari disini. Hasil pantauan kami, warga terpaksa BAB di sungai atau bahkan secara sembarangan di kebun sawit. Prihatin akan hal itu, kami berinisiatif membangun WC. Insya Allah, WC yang kamu bangun sudah bisa dipakai besok (hari ini,red),” kata koordinator WMI, Ranu Sugianto yang merupakan warga Bogor.

Sementara itu, Kepala Dusun (Kadun) III Desa Genting, Ludin mengungkapkan, semua warga terpaksa mengungsi lantaran masih dihantui rasa cemas akan bencama susulan. “Informasi yang kami peroleh, hujan masih akan terjadi. Kami takut, hujan deras saat malam hari kembali membuat rumah kami tergenang air dan membuat warga kalang kabut,” kata Ludin.

Secara keseluruhan, sambungnya, tak ada korban jiwa akibat bencana. Hanya saja, seluruh rumah warga, fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum dipenuhi lumpur. Pantauan Bengkulu Ekspress, sebagian rumah warga memang sudah dibersihkan dari lumpur yang masuk kedalam rumah. Hanya saja, sebagian lagi masih dipenuhi lumpur yang sudah mulai mengeras dan sulit dibersihkan. “Secara keseluruhan, ada 8 rumah warga rusak berat dan roboh. Semuanya rumah panggung,” kata Ludin.

Sementara itu, wacana Pemda Benteng untuk merelokasi pemukiman warga ke lokasi yang lebih aman masih belum final. “Masih dalam pembahasan. Yang jelas, kita akan gelar pertemuan dengan warga. Warga setuju atau tidak,” kata Penjabat (Pj) Sekda Benteng, Edi Hermansyah SSi MSc Phd.

Terpisah, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Benteng, Drs Hendri Donal SH MH mengatakan, usulan relokasi sudah disampaikan ke Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR RI. “Anggaran relokasi pembangunan rumah warga yang terkena bencana selalu standby. Ketika mendapat persetujuan warga, barulah dana pusat dikucur,” kata Hendri Donal.(135)