Penderita Sakit Jiwa Butuh Perhatian

Penderita Sakit Jiwa Butuh Perhatian
Penderita Sakit Jiwa Butuh Perhatian

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Bengkulu, Hj Leny Haryati John Latief SE MSi mengatakan, penderita sakit jiwa atau gila yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu harus mendapatkan perhatian serius. Sebab, jika penyakit yang diderita tersebut tidak diperhatikan, maka bakal sulit untuk disembuhkan.

“Siapapun harus ikut memperhatikan. Baik dari keluarga, pihak medis maupun pihak lain agar penyakit yang diderita dapat cepat disembuhkan,” ujar Leny saat berkunjung ke RSKJ bersama pengurus DPD KPPI, kemarin (8/3).

Dijelaskannya, perhatian itu tidak hanya diberikan saat berada di RSKJ saja, tapi juga dilakukan ketika telah sembuh atau dikembalikan ke rumah pasien. Sebab, banyak kejadian setelah sembuh, pasien tidak diterima kembali dalam keluarga. Akhirnya, penyakit sakit jiwanya kembali kambuh.

“Ini juga jadi perhatian, jangan sampai hal ini terjadi. Mereka (pesien,red) sudah sembuh harus diterima, karena itu keluarga kita,” ungkapnya.

Tidak hanya dari keluarga, pihak lain juga harus ikut memperhatikan dalam proses kesembuhaan pasien di RSKJ ini. Karena yang terjadi saat ini, banyak pasien ini tidak dijenguk oleh keluarganya masing-masing. Minimal kedatangan keluarga dapat memberikan hiburan dan doa, agar para pasien mendapatkan kesembuhaan.

“Kita do’akan mereka bisa sembuh dan kembali seperti sebelumnya, lalu diterima kembali oleh keluarga dan lingkungannya seperti sebelum mereka sakit,” tambah Leny.

Menurut Leny, kunjungan KPPI yang merupakan organisasi gabungan perempuan politik dari berbagai Parpol ke RSKJ ini sekaligus dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional.

Aksi simpati dengan melakukan kunjungan ini sebagai bentuk perhatian kepada para pasien yang mengalami ganguan jiwa agar tetap semangat untuk mendapatkan kesembuhaan.

“Pasien sakit jiwa ini harus kita perhatikan,” pungkasnya. (151)