Penderita Diabetes Capai 800 Anak

JAKARTA– Penyakit diatebes biasanya identik dengan penyakit orang dewasa yang umumnya baru menyerang di usia 40 tahun ke atas. Namun, penyakit tersebut ternyata juga menyerang anak-anak.
Bahkan jumlah penderita diabetes anak terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Konsultan Endokrin Anak RSCM, dr Aman B. Pulungan SpA(K) hanya dalam waktu dua tahun, jumlah penderita diabetes anak di Indonesia meningkat hingga 500 persen.

“Di tahun 2009 anak yang menderita diabetes tidak sampai 150 anak. Sementara sekarang data terakhir menunjukkan bahwa sudah hampir 800 anak di Indonesia yang menderita diabetes. Peningkatannya mencapai 500 persen lebih,”jelas Aman.

Aman memaparkan berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) pada 2011, diperkirakan terdapat 366 juta orang di dunia yang menderita diabetes. Dari jumlah tersebut, terdapat 78 ribu anak yang didiagnosa sebagai penyandang baru diabetes tipe 1 setiap tahun. Namun, tidak banyak orang tua yang tahu bahwa anak-anak bisa menderita diabetes.

“Perhatian banyak pihak umumnya masih terfokus pada penderita diabetes dewasa. Padahal anak dengan diabetes tidak kalah memerlukan perhatian dan bantuan,”jelasnya.

Pada anak-anak, lanjut dia, seringkali yang dijumpai adalah diabetes tipe 1 dimana pankreas tidak mampu lagi memproduksi insulin sama sekali. Sehingga, anak penyandang diabetes tipe 1 hidupnya tak bisa lepas dari insulin, efek insulin bisa seketika dalam menurunkan kadar gula darah. Karena itu, anak dengan diabetes membutuhkan perhatian ekstra dalam mengatur pola hidupnya.

“Tergantung dari usianya. Tapi jika sudah positif menderita diabetes tipe 1, maka mereka harus diajari cara menginjeksi insulin, menghitung asupan karbohidrat dan memonitor kadar gula darah dengan alat swamonitor gula darah (glukosa meter),”jelas Aman.

Namun, ada juga anak-anak yang menderita diabetes tipe 2. Jika mereka terdeteksi menyandang diabetes tipe 2, besar kemungkinan penyebabnya adalah pola makan dan gaya hidup yang salah, seperti obesitas. Aman menekankan gangguan akibat diabetes ini cenderung mengalami kenaikan saat liburan sekolah.

“Kasus diabetes pada anak-anak paling banyak saat setelah liburan atau saat masa liburan. Karena pada masa-masa liburan, anak-anak biasanya bebas makan apa saja. Mereka juga biasanya lebih banyak tidur ketimbang beraktivitas. Karena itu penting, setelah liburan untuk dicek gula darahnya,”papar Aman.

Aman memaparkan, pada umumnya para orang tua sulit menerima ketika anaknya didagnosa menderita diabetes. Namun, bagaimanapun orang tua harus menerima dan belajar untuk menyesuaikan pola aktivitas harian si anak, seperti bersekolah, belajar, bermain, mengatur pola makan dan berolahraga.

Meski menyandang diabetes, Aman menekankan, banyak pendeirta diabetes mampu menjalani hidup dengan sehat dan berumur panjang. Ada empat pilar utama dalam penanganan diabetes pada anak, yakni insulin, makanan sehat, olahraga dan cek gula darah. “Insulin harus disuntik seumur hidup, makanan harus makanan sehat, harus olahraga terus, untuk mengontrol metabolisme harus ada monitoring,”tegasnya.

Aman mengatakan, memantau gula darah memegang peranan sentral dalam pengelolaan diabetes terutama tipe 1. Sebab, semua aktivitas baik medis maupun non medis dipantau oleh kadar gula darah yang harus terkontrol.

“Gula darah yang tinggu maupun terlalu rendah, sama bahayanya buat diabetisi tipe 1. Makanya usia berapapun halal cek gula darah. Apalagi sekarang sudah ada alat untuk mengecek gula darah yang simpel dan tidak sakit,”jelasnya.

Sementara itu, Kasubdit Pengendalian Diabetes Melitus di Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Ditjen P2PL Kemenkes Titi Sari Renowati mengungkapkan pemerintah menaruh perhatian atas permasalahan obesitas pada anak. Obesitas pada anak bisa mengarah pada diabetes. Titi mengatakan, pemerintah memfokuskan pada upaya preventif dan promotif.

“Misalnya dengan membuat 5270 Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular) di seluruh Indonesia. Pos ini dilengkapi sejumlah fasilitas seperti pengukuran gula darah, tinggi badan, berat badan dan lainnya,”imbuh dia. Sebagai informasi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan pada 2030 penyandang diabetes di Indonesia akan meningkat sebanyak 21,3 juta orang.(Ken)