Pendaftaran Haji Gunakan Teknologi Biometrik

Kementerian Agama secara bertahap menggunakan pendaftaran haji dengan menggunakan teknologi biometrik berbasis web sehingga ke depan kemungkinan terjadinya kesalahan identitas calon haji (Calhaj) dapat dieliminir.
‘’Guna mendukung ke arah itu, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU) secara bertahap menyelenggarakan pelatihan perekaman data menggunakan biometrik berbasis web di berbagai tempat,‘’ kata Kakanwil Kemenag Bangka Belitung, Prof. Dr. H. Hatamar M.Ag didampingi Drs. Ahmad Baedawi M.Ed, Kasubbag Informasi Haji di Pangkalpinang.

Sistem perekaman data menggunakan biometrik banyak keuntungannya, kata praktisi IT Aman Rahiman dari Citra Natasolusi.Teknologi ini bisa mendeteksi keberangkatan seorang jemaah yang telah menunaikan pergi haji berulang-ulang.

Bukan itu saja, yang lebih penting ke depan akurasi data bisa dipertanggungjawabkan dan bisa dijadikan pijakan sebagai bahan pengambil keputusan, katanya.

Teknologi biometrik yang digunakan Ditjen PHU untuk pendaftaran haji itu mulai diberlakukan dalam dua tahun terakhir. Itu memang belum seluruhnya. Hanya sebagian dari jemaah yang didaftar.

Selama dua tahun itu, menurut Baedawi, diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Sebab dapat ditampilkan secara real time. Kantor Kemenag di kota dan kabupaten ke depan sudah harus memiliki peralatan pendukung untuk itu.

Karena itu, sebelum peralatan rekam data dikirim, pihaknya menyelenggarakan pelatihan.Sampai saat ini tercatat sudah 310 orang dari berbagai kota dan kabupaten ikut pelatihan perekaman data menggunakan teknologi biometrik.

Untuk yang ikut di Pangkalpinang sebanyak 35 orang berasal dari daerah pemekaran seperti kabupaten Kayong Utara, Kalbar. Kabupaten Supiori di Papua. Termasuk
dari kabupaten di provinsi Sumut, Babel dan Aceh.Secara teknis, teknologi ini sama seperti yang digunakan e-KTP.

Hanya saja untuk dewasa ini banyak menemui tantangan terkait terbatasnya kemampuan server. Jika keluatannya 64 kilo byte per second (Kbps), pengiroman data akan lemot. Penyebabnya data yang dikirim kapasitasnya sangat besar.Untuk mengtasinya, dapat menggunakan teknologi Enterprise Servise Bus (ESB).

Teknologi tergolong baru kedepan akan banyak digunakan, kata Aman. Selain itu, teknologinya pun sudah harus mengikuti standar biometrik internasional, ICAO (International Civil Aviation Organization), katanya.(ant)