Pemkot Bengkulu Putuskan  Sekolah Tetap Laksanakan Pembelajaran Jarak Jauh 

Wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi,SE
Wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi,SE

BENGKULU, BE – Pemerintah Kota Bengkulu tetap berkeras menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan berpegang pada aturan Surat Keputusan bersama 4 Menteri dalam menerapkan pembelajaran dimasa pandemi covid-19. Meskipun desakan melaksanakan pembelajaran tatap muka berdatangan dari berbagai kalangan masyarakat.

Seperti diungkapkan Wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi, sampai saat ini Pemerintah Kota Bengkulu, tetap melakukan pembelajaran jarak jauh moda daring (dalam jaringan). Mengingat masih adanya pertambahan kasus konfirmasi positif Covid-19 di kota ini.

“Kami masih menunggu arahan dari Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), karena sampai hari ini belum ada arahan pasti. Apakah dibolehkan tatap muka atau belum,” ungkap Dedy pada BE Rabu  (26/8).

Dedy mengakui, proses pembelajaran diera pandemi saat ini menjadi dilema sendiri. Disatu sisi banyaknya permintaan dari wali murid untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Pasalnya, pembelajan Daring tersebut, dinilai kurang efektif disisi lain pembelajaran dizona orange belum diperbolehkan tatap muka.

Ia mencontohkan beberapa daerah yang melakukan pembelajaran tatap muka, justru menimbulkan klaster baru. Maka itu, pemerintah sangat berhati-hati untuk mengambil keputusan pembelajaran tatap muka, demi keselamatan siswa/siswi itu sendiri.  Dicontohkan Dedy, ada beberapa daerah ketika tatap muka, malah ada klaster baru di sekolah. Seperti di Sumatera Selatan. Kepala sekolahnya itu meninggal, karena Covid-19.

“Nah, kita tidak mau seperti itu, karena antibodi atau tingkat imun anak anak remaja dan dewasa itu lebih kuat dari pada guru gurunya. Apalagi guru guru yang berusia diatas 50 tahun ke atas. Nah itu sangat rentan, jadi ini pilihan yang sangat sulit,” bebernya.

Kekhawatiran wawali diperkuat dengan jumlah data kasus konfirmasi positif Covid-19 di kota Bengkulu, yang mencapai 224 kasus. Kebanyakan virus tersebut menyerang orang-orang yang berusia diatas 50 tahun, serta orang dengan memiliki penyakit penyerta.

Wawali mengatakan kebijakan ini bukan berarti pemkot tak merespon keinginan masyarakat yang meminta belajar tatap muka dilaksanakan. Namun, ini persoalan keselamatan yang menyangkut keberlangsungan nyawa seseorang. Meski begitu, pembelajaran tatap muka dengan sistem studi club bisa menjadi solusi.

“Studi club jadi salah satu solusi, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Sebenarnya kita tidak mau separuh-separuh. Namun diselesaikan secara integral. Sampai hari ini kita masih daring,” tukasnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bengkulu Dra Rosmayetti MM pun mengaku tak mau gegabah dalam mengambil keputusan dengan membuka pembelajaran tatap muka.

“Memang banyak sekali desakan, tetapi kita tetap berdasarkan aturan,” tegasnya.

Ia meminta masyarakat untuk melaporkan sekolah yang telah melakukan pembelajaran tatap muka ke Disdik kota Bengkulu.

“Jika ada yang sudah belajar tatap muka dapat dilaporkan ke Disdik. Mudah-mudahan ada kebijakan baru dari Kemendikbud sehingga pembelajaran tatap muka bisa dilakukan,” tukasnya.  (247)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*