Pemimpin Gigih, Demokratis dan Merakyat

Mengenang Gubernur ke 5 Drs H Adjis Ahmad (Alm)

Fhoto Romi. Jenazah adjis Ahmad dikeluarkan dari mobil ambulan menuju kuburan keluarga di depan TPU Pagar Dewa.Mantan Gubernur Bengkulu ke-5 Drs H Adjis Ahmad, dalam usinya ke 72 telah  tutup usia.

Ratusan pelayat dari kalangan pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan keluarga, serta banyak lainnya menghantarkan hingga tempat peristirahatan terakhir di TPU Keluarga di Kelurahan Pagar Dewa, sekitar Pukul 11.00 WIB kemarin, setelah di salatkan di Masjid Raya Baitul Izah.

Berikut kenangan sosok yang dikenal demokratis dan merakyat itu:

                                                                                                                                                                          
IYUD DWI MURSITO
Kota Bengkulu.                                                                                                                                             

Drs H Adjis Ahmad (Alm), menjadi Gubernur Bengkulu ke 5  priode 1994-1998 mengawali karir sebagai Camat Mukomuko Utara, kemudian menjadi Bupati Bengkulu Selatan. Hingga akhirnya terpilih menjadi gubernur Bengkulu. Dia dikenal sebagai sosok  pemimpin yang sangat baik dan tidak pernah marah. Kenangan ini diungkapkan tokoh masyarakat Wahidun Djangjaya, yang juga pernah menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkulu Selatan, saat itu Adjis Ahmad sebagai bupatinya.

“Kita semua telah kehilangan pemimpin yang bijak, tokoh yang baik dan merakyat,” ujar Wahidun.
Sehingga wajar, banyak kalangan ikut menghantarkan sosok teladan itu hingga tempat peristirahatan terakhir.

Tampak dalam pemakaman antara lain Ketua DPRD Kurnia Utama MSi Kapolda Bergijen Pol Albertus Julius Beny Mokalu, SH beserta istri, Sekda Provinsi Asnawi A Lamat beserta istri, Wakil Walikota Ir. Patriana Sosialinda dan mantan Wakil Gubernur H Iskandar Ramis, mantan Walikota H.Ahmad Kanedi SH MH, serta pejabat, dan mantan pejabat, masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Mereka, sebelumnya mereka ikut melakukan salat jenazah di Masjid Raya Baitul Izza.

Brigjen (Purn) Iskandar Ramis selama 4 tahun mendampinginya sebagai Wagub saat almarhum menjadi gubernur.  Ia mengatakan, Almarhum Adjis Ahmad sebagai pemimpin yang sangat demokratis, merakyat dan selalu bekerja secara sistematis dengan penuh perencanaan.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai pemimpin gigih dalam membangun Provinsi Bengkulu.  “Empat tahun lamanya saya mendampinginya Almarhum dari tahun 1996 sampai 2000.  Bengkulu memang pas di pimpinnya, saat itu ia dikenal gigih. Kalau ada kegagalan sedikit saja, almarhum pasti gigih  memperjuangkannya lagi,” katanya.

Selain itu juga program yang di kerjakannya selama menjadi gubernur program yang merakyat seperti pembasmian hama babi dapat piala dari Presiden Soeharto. Sejak menjalankan tugas sebagai gubernur, melewati masa pensiun hingga peristirahatan terakhir, Iskandar turut  mendampinginya. “Secara pribadi maupun sebagai sahabat sangat baik sekali sampai beliau wafat dan saya mendampinginya.  Ada tiga gubernur yaitu Pak Adjis Ahmad, Pak Andi Jalal dan Hasan Zen, semua sosok yang baik dan teladan,” terangnya.

Hal yang sama diungkapkan  Ketua DPRD Provinsi Bengkulu Kurnia Utama mengatakan almarhum Adjis Ahmad semasa hidupnya adalah sahabat ayahnya. Ia mengatakan Almarhum adalah tauladan yang wajib ditiru. “Beliau (Almarhum) sosok pemimpin yang patut ditiru,” katanya.
Menurutnya, saat orang tua Kurnia Utama meninggal, Adjis Ahmad berpesan kepadanya agar melanjutkan perjuangan orang tuanya. “Beliau pernah beramanah di kuburan bapak saya di Sukarami. Agar saya melanjutkan perjuangan bapak,” jelasnya.

Ia menilai, Adjis Ahmad pemimpin yang bagus, karena mampu menyelesaikan jabatannya hingga dan tidak ada masalah.  Almarhum mengembuskan napas terakhir dalam usia 72 tahun setelah menjalani perawatan di RSUD M Yunus, Bengkulu, Rabu (20/2) sekitar pukul 16.00 WIB akibat menderita penyakit gagal ginjal.  Almarhum semasa hidupnya sudah menjalani perawatan sakit gula sejak 2007, namun terkena penyakit komplikasi dalam setahun terakhir, bahkan penglihatannya terganggu akibat penyakit komplikasi yang dideritanya itu.

Hingga sore kemarin, di kediamannya Jalan Kapuas Raya, Padang Harapan, Kota Bengkulu, terus dipenuhi  ratusan pelayat yang berdatangan secara silih berganti. Adjis Ahmad bin Denes lahir di Desa Lingge, Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatra Selatan pada 25 Agustus 1941, meninggalkan seorang istri, 5 orang anak dan sepuluh orang cucu. Selamat Jalan Paka Adjis Ahmad. Semoga mendapat tempat yang baik disisi Allah SWT. (**)