Pembakaran Buku Yasin Menuai Kecaman

//Kapolda Turun,
Kemenag Bentuk Tim
RATU SAMBAN, BE – Insiden pembakaran buku Yasin dan perlengkapan masjid Nurul Islam di Desa Pagar Agung Kecamatan Seluma Barat, tidak bisa ditoleransi. Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu ikut merespon secara serius agar tidak memicu gejolak di masyarakat. Tim khusus dibentuk Kemenag untuk mengusut kejadian tersebut untuk kemudian dilaporkan ke penegak hukum.  “Saya baru tahu dari media. Tapi tadi saya telah memerintahkan untuk pembuatan tim di Kemenag Seluma,” kata Kepala Kanwil Kemenag Provinsi H Suardi Abbas, SH MH, kepada BE, kemarin.  Ia belum bisa menyimpulkan apakah buku Yasin itu sengaja dibakar atau tidak. Sebab, insiden ini sangat sensitif dan bisa memicu gesekan di tengah masyarakat.  Pastinya penegak hukum yang bisa menyimpulkan latar belakang pembakaran buku Yasin itu. Pun begitu, ia menyayangkan insiden tersebut bisa terjadi.  Apalagi  melakukan pembakaran  perangkat masjid,seperti 300 eksemplar buku Yasin, 100-an eksemplar buku perpustakaan, 20 buah kaset ceramah, 1 buah kaligrafi dan 1 buah papan pengumuman keuangan masjid. Apalagi barang yang dibakar tak sedikit. Meliputi 300 eksemplar buku Yasin, 100-an eksemplar buku perpustakaan, 20 buah kaset ceramah, 1 buah kaligrafi dan 1 buah papan pengumuman keuangan masjid. “Jika tak layak digunakan dan takut  berserakan atau terinjak-injak mestinya tidak dibakar. Solusinya  bisa dengan  cara ditanam dalam tanah (dikubur). Lokasinya dicari  bukan tempat berlalulintas manusia atau tempat kotor,” imbuhnya.

// Jamin Kondusif
Sementara itu pasca pembakaran ratusan eksemplar buku Yasin dan perlengkapan masjid Nurul Islam tidak memicu gejolak. Situasi Seluma kondusif. Jaminan kondisi keamanan kondusif tersebut berani diberikan polisi, lantaran masyarakat setempat tak lagi tersulut amarah. Selain itu, kemarin Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Buhanudin Andi serta Plt Bupati Seluma H Bundra Jaya SH MH serta seluruh pimpinan daerah Kabupaten Seluma serta pimpinan ormas keagamaan dan FKUB Seluma terjun langsung ke TKP untuk menangkan warga, dari pukul 11.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB.  ”Kita mengutuk pelaku kasus ini. Kasus ini masih dalam penyelidikan akan kita usut tuntas. Kita mendapat dukungan dari masyarakat, karena masyarakat menyerahkan poses ini kepada kepolisian. Dan masyarakat di sini baik-baik dan dewasa menyikapi masalah ini,” kata Kapolres Seluma AKBP PL Gaol SIK usai mendampingi Kapolda Bengkulu, kemarin. Hingga kemarin, anggota polisi tak disiagakan di TKP dan di Desa Pagar Agung dan sekitarnya. Kapolda Bengkulu serta Plt Bupati Seluma yakin tidak akan ada aksi anarkis pasca insiden tersebut selagi tidak ada provokator yang memprovokasi kemudian. Sehingga Polres Seluma pun tak diperintahkan oleh Kapolda Bengkulu menerjunkan pasukan ke TKP. Sementara itu, kemarin Kepala Desa Pagar Agung, Suyono serta sejumlah pengurus masjid Nurul Islam dan warga mulai diperiksa polisi sebagai saksi untuk dapat mengungkap kasus tersebut. Sejauh ini polisi belum dapat memastikan siapa pelakunya. ”Akan kita tindak tegas pelakunya. Kalau pelakunya orang tidak waras maka akan ada prosesnya sesuai prosedur. Kalau pelakunya orang waras pasti ditindak tegas,” kata Kapolres AKBP PL Gaol.
//2 Aliran Bersitegang

Data terhimpun dari penelusuran BE di Desa Pagar Agung, pasca insiden pembakaran Minggu (16/9) tersebut, muncul saling curiga antar 2 pengikut ormas Islam. Pengikut salah satu ormas Islam yang alirannya membudayakan Yasinan merasa tersinggung dan curiga jika pelakunya adalah pengikut Ormas yang alirannya tak biasa membudayakan Yasinan. ”Selama ini di masjid kami ini rutin diadakan kelompok pengajian yang kajiannya tidak begitu biasa dengan budaya yasinan. Yang rame salat jamaah lima waktu di masjid ini biasanya dari jamaah yang tidak biasa yasinan. Jadi jamaah ada yang curiga pelakunya ini saudara seiman sendiri,” ungkap imam Masjid Nurul Islam, Amri. Ditegaskan Amri, kedua kelompok pengikut pengajian yang beritegang itu bukan antara pengikut Nahdatul Ulama (NU) dengan pengikut Muhammadiyah. Menurutnya, antara NU dan Muhammadiyah di desa itu selalu akur dan tak pernah saling ganggu. ”Kita meminta pemimpin umat untuk cepat duduk bersama, untuk menghindari masalah baru yang tidak diinginkan,” kata Amri. (444)