Pelindo Dituding Tidak Profesional

BENGKLU, BE – Kesepakatan antara PT Pelindo II Cabang Bengkulu dengan perusahaan-perusahaan anggota Asosiasi Pertambangan Batubara Bengkulu (APBB) tentang kontribusi pemuatan batu bara di pelabuhan Pulau Baai akan berbuntut panjang. Pasalnya, pihak APBB akan menuntut PT Pelindo II karena dianggap tidak profesional dalam menjalankan kesepakatan tersebut.

“Pada awal 2011 lalu, APBB membuat kesepakatan dengan PT Pelindo II tentang menggunakan jasa pelayanan PT Pelindo. APBB dikenakan pembayaran kontribusi pemuatan batu bara. Untuk kedalaman alur sampai 6,5 meter LWS dikenakan kontribusi pemuatan batu bara sebesar 1,5 US$/metrik ton, kedalaman 10 meter LWS dikenakan kontribusi pemuatanĀ  5,5 US$/metrik ton,” kata Sekretaris APBB, Junaidi Ali Jahar SH saat jumpa pers di kantor APBB Pagar Dewa, kemarin.

Junaidi menjelaskan fakta-fakta di lapangan bahwa APBB sering mendapatkan pelayanan yang tidak baik dari PT Pelindo bahkan kedalaman alur tidak mencapai 10 meter LWS, namun tarif yang dikenakan kepada APBB tetap 5,5 US$/metrik ton. Semestinya dikenakan tarif 1,5US$/metrik ton.

“Kami punya punya data bahwa kapal wessel atau mother vessel yang hanya dapat dimuat batu bara dengan draf 9 meter LWS dengan alasan pandu kapal dan kapten kapal tidak berani melebihi muat karena kedalaman alur hanya 9 meter LWS,” tegas Junaidi.

Dengan adanya hal tersebut, pihaknya menuntut untuk mengembalikan kelebihan membayar kontribusi pemuatan kapal sebesar 4,52 US$/metrik ton. Karena APBB hanya dikenakan tarif sebesar 1,5 US$/metrik ton mengingat kedalaman alur tidak mencapai 10 meter LWS.

Junaidi mengungkapkan, terkait permasalahan tersebut, pihaknya juga telah melayangkan somasiĀ  kepada PT Pelindo II Cabang Bengkulu tanggal 7 Mei 2012 lalu. Namun hingga saat ini surat somasi tersebut tidak digubris Pelindo.
“Anggota kami sudah mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat tidak profesionalnya PT Pelindo dalam menjalankan kesepakatan yang telah di setujui bersama,” ujarnya.

Dalam dalam waktu 14 hari mendatang Pelindo juga tidak mengubris persoalan tersebut, Junaidi mengancam akan menggelar aksi besar-besaran di kantor PT Pelindo. Bila aksi demo tersebut tidak juga digubris, maka tidak menutup kemungkinan pihaknya akan menempuh jalur hukum.
“Kami akan sampaikan kepada masyarakat Provinsi Bengkulu, bahwa PT Pelindo telah wanprestasi atau mengingkari kesepakatannya sendiri. Selain itu kami tidak segan-segan membawa perkara ini ke ranah hukum,” ancamnya.

Untuk itu, APBB meminta agar PT Pelindo bersedia memenuhi tuntutannya dalam waktu dekat. Karena APBB semakin dirugikan dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengekspor batu bara dari Bengkulu.

Kami tetap berharap agar PT Pelindo tidak lari dari kenyataan, karena dalam kurun waktu hampir 2 tahun ini kami telah berupaya untuk menyelesaikannya dengan kekeluargaan, tapi pihak Pelindo terus menghindar,” tukasnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Manager Operasional Pelindo II Bengkulu, Sabar Haryono mengaku tidak mengetahui persoalan tersebut. “Saya tidak tahu masalah itu, nanti saja ya saya sedang mengemudikan mobil,” elaknya saat dihubungi tadi malam.(400/adv)