Pelanggan PLN Minta Jangan Data Tembak

NAPAL PUTIH, BE – Sebelum tagihan rekening PLN pelanggan baru dikeluarkan, pelanggan berharap jangan sampai jumlah tagihan didasarkan pada data angka pemakaian di KWH meter yang main tembak saja.  Hal ini terkait pengalaman beberapa pemasangan reguler, setelah 2 hingga 3 bulan keluar tagihan rekening, namun angkanya tidak sinkron dengan pencapaian di KWH meter terpakai.

“Pelanggan baru sudah sering menanyakan kapan tagihan rekening akan keluar, sekaligus berharap harus sesuai dengan angka di KWH meter,” ungkap Kepala Desa Bukit Sari Kecamatan Napal Putih, Suratno, kemarin (3/10).

Data terhimpun menyebutkan, program Lisdes 2011, di Desa Bukit Sari sudah selesai semua terpasang KWH. Pun begitu, sekarang sudah mulai menanyakan kapan rekening tagihan akan keluar, sebab ada kekhawatiran tagihan nantinya bakal membengkak sehingga tidak bisa bayar hingga akhirnya menunggak. “Memang banyak yang khawatir jika tidak segera keluar nanti tagihannya justru membengkak,” lanjut Ratno.

Pengalaman yang pernah ada, sejak dipasang KWH tidak langsung bulan berikutnya ada tagihan rekening listrik. Biasanya rekening mulai di tagih oleh pihak PLN, paling cepat 2 bulan berikutnya. Soal besar kecilnya sebenarnya tidak masalah, asalkan memang benar-benar sesuai dengan pemakaian angka yang tercantum di KWH meter.   Justru yang tidak diinginkan sudah keluarnya tagihan masih lama, terus hasil catet Meter disarankan pada data tembak. “Semestinya sebelum muncul tagihan rekening, petugas Cater harus turun mendatangi kwh pada rumah-rumah warga, agar nantinya tidak timbul masalah baru,” kata Ratno.

Permasalahan-permaslahan terkait soal besar rekening, data tembak, sedini mungkin bisa dihindari jika memang hasil cater memang sesuai dengan angka pemakaian di KWH.  “PLN kalau selama ini tidak melakukan seperti itu, saatnya pada pelanggan baru ini diberikan pembelajaranlah sesuai perubahan yang dilakukan pada BUMN di Indonesia sekarang ini. Kita akan buktikan apakah petugas cater ini benar-benar turun melakukan potret dan pencatatan di rumah-rumah,” lontar Kades. (234)