Pelaku Pembunuhan Mengaku Terzalimi

CURUP, BE – Pembunuhan sadis yang menyebabkan Sudirman alias Jawei (40) petani kopi asal Desa Pungguk Lalang Kecamatan Curup Selatan tewas, sekitar pukul 23.00 WIB Selasa, 14 Agustus 2012 lalu hingga kini masih misterius.  Meski polisi telah menetapkan satu tersangka dalam perkara tersebut.

Sugi Saputra (18) warga Desa Sukarami, yang menjadi terdakwa tunggal kasus pembunuhan terhadap Sudirman dalam persidangan, masih saja membantah dirinya terlibat dalam kasus pembunuhan terhadap Sudirman.  Dalam persidangan yang diketuai Afrizal SH, Rabu (14/11) terdakwa Sugi masih meminta majelis hakim kembali menghadirkan saksi Riski, yang dipercayainya mengetahui kronologis pembunuhan.

“Ada dua orang saksi dengan namanya yang sama, yakni Riski sudah diperiksa di kepolisian, keterangannya sudah dibacakan dan kenyataannya memberatkan saudara, jaksa menyatakan keterangan saksi sudah cukup. Apa anda masih tetap ingin menghadirkan saksi tersebut,” tanya Hakim.

Dengan yakin Sugi menyatakan, masih membutuhkan saksi Riski di persidangan.  “Saya yakin, Riski yang lebih tau kronologis kejadian itu pak, saya ingin dia dihadirkan,” tegas Sugi.

Di bagian lain, hakim menyatakan keterangan saksi dan bukti-bukti mengarah kepada keterlibatan Sugi.  “Jika memang bisa membuktikan sudara tidak terbukti terlibat dalam pembunuhan tersebut, akan kami pertimbangkan dalam memutuskan perkara ini.

Namun tidak ada alasan karena saudara di penjara, tidak bisa menghadirkan saksi. Jika saksi tidak hadir, kami anggap anda tidak menggunakan hak anda menghadirkan saksi yang meringankan,” tegas hakim.

Perkara pembunuhan yang dihadapi Sugi tersebut cukup menjadi beban berat bagi Suhartono (41) ayah kandung Sugi. Dengan penuh keyakinan Suhartono percaya anaknya tidak terlibat dalam pembunuhan tersebut.

“Saya sudah tanyakan sejujur-jujurnya kepada Sugi apa dia pelaku pembunuhan.  Dengan menyatakan sumpah Sugi mengaku tidak tahu soal pembunuhan, anak saya itu terpaksa mengaku karena dipukul saat menjalani pemeriksaan di polisi.  Saya sangat ikhlas anak saya di hukum jika dia pelakunya, tetapi jika tidak, dunia dan akhirat saya tidak rela. Saya minta polisi tidak berhenti sampai dengan anak saya, dalam mengungkap kasus pembunuhan seperti ini,” katanya.

Dijelaskan Suhartono, beberapa saksi sudah memberikan keterangan, Ada  Riski warga Talang Gambir Sukarami, Candara, Julio, Hengki, dan terakhir Riski Karang Jaya yang belum memberikan keterangan di pengadilan.  Kami tidak rela kalau perkara ini langsung di putuskan tanpa ada keterangan yang sebenarnya dari saksi yang lain, ingin kami dengarkan.

Kasus ini, sambung Suhartono, cukup menjadi beban keluarga dirinya yang hanya berprofesi sebagai petani kopi.  “Motor jenis Revo BD 2272 K yang masih kredit milik saya ikut ditahan.  Padahal dengan motor itu saya bisa mencari uang dengan cara menjadi ojek.

Bagaimana kami mau menghidupi keluarga, untuk bolak balik mengikuti persidangan saja saya harus meminjam motor orang lain, dari tempat tingga saya di Sukarami. Makanya saya tidak rela dunia dan akirat jika sampai anak saya memang tidak terlibat,” sesalnya.
Sementara itu, Awaludin (47), kakak kandung korban Sudirman, mengaku sudah mengikhlaskan kepergian adiknya dengan cara yang tidak wajar tersebut.

Selanjutnya menyerahkan pembuktian hukum kepada polisi, jaksa dan hakim. “Kami tidak ingin menuduh siapa-siapa, atau menuntut balas. Kami hanya ingin yang bersalah sebenarnya dalam kasus ini diberikan sanksi yang setimpal dengan perbuatannya,” tegas Awaludin.

Seperti diketahui, kasus pembunuhan terhadap Sudirman terjadi pada akhir Ramadhan 1433 Hijriah yang lalu. Sekitar pukul 23.00 WIB Selasa (14/8), Sudirman ditemukan tewas bersimbah darah dengan dua luka tusuk di punggung. Tubuh korban ditemukan warga sekitar 30 meter dari rumah saudaranya di Karang Jaya Desa Tebat Pulau Kecamatan Bemani Ulu.

Awaludin menceritakan, sebelum kejadian korban masih beraktivitas normal. Dari pondok yang dihuninya di Desa Karang Jaya Tebat Pulau, bapak 3 anak itu berencana mengunjungi rumah warga yang sedang ada musibah kematian dengan berjalan kaki. Sekitar pukul 21.00 WIB korban bahkan masih sempat mampir ke rumah adiknya Suni (38) yang terletak sekitar 30 meter dari lokasi pembunuhan.
Diduga saat baru pulang dari tempat saudaranya itu, korban dibunuh oleh para pelaku tidak bertanggung jawab.

Konon para pelaku pembunuhan berjumlah 3 orang, menggunakan lebih dari 1 kendaraan bermotor. Korban ditemukan dengan kondisi telungkup tidak jauh dari Sekolah Dasar Tebat Pulau, bahkan ditemukan barang bukti berupa pisau tidak jauh dari tubuh korban.  (999)