Pelajaran Anti Terorisme Masuk Kurikulum Sekolah

RIO-HOT ISSUE BETV-TERORISME (2)
RIO/Bengkulu Ekspress
HOT ISSUE: Para peserta acara Hot Issue BETV menyampaikan argumen dalam diskusi yang membahas peran media, pemuda, pemerintah dan tokoh masyarakat dalam menangkal aksi terorisme, di Grage Hotel, Jumat (25/5)

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Kasus teror bom bunuh diri yang terjadi di beberapa daerah dan menewaskan puluhan warga sipil dan polisi, menandakan bahwa ancaman teror di Indonesia sudah level tinggi. Hal ini terus mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, seperti yang disampaikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bengkulu Provinsi Bengkulu, Zacky Antoni SH MH.

Dengan semakin tingginya level ancaman teror di Indonesia, maka perlu ada upaya antisipasi sejak dini, dengan cara menjadikan pelajaran anti terorisme masuk ke dalam kurikulum sekolah. Hal ini terungkap dalam hot issue Bengkulu Ekspress TV, yang membahas peran media, pemuda, pemerintah dan tokoh masyarakat dalam menangkal aksi terorisme di Grage Hotel, kemarin (25/5).



“Ini harus masuk dalam kurikulum kita, karena levelnya sudah sangat mengkhawatirkan sekarang. Seperti kejadian yang dialami 1 keluarga, pelaku teror ini juga melibatkan anak-anak mereka dibawah umur 10 tahun, tentu miris kita melihatnya,” kata Zacky saat menjadi narasumber Hot Issue.

Menurut Zacky, penggunaan pelaku tunggal atau kelompok terutama anak-anak dibawah umur dalam melakukan serangan kini sudah menjadi strategi yang mungkin mulai sering dijalankan oleh organisasi terkait terorisme. Untuk itu, harus ada pembelajaran yang mampu memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai bahayanya teror tersebut, kemudian hal-hal apa saja yang harus dihindari, sehingga timbul pemahaman yang matang dan mengecilkan potensi terulangnya pelaku bom bunuh diri yang melibatkan anak-anak dibawah umur.

Maka dari itu, atas kejadian teror yang baru saja terjadi ini diharapkan semua pihak bisa mengambil peran masing-masing dan memadukannya sehingga menjadi tameng yang kuat untuk mencegah dan mengantisipasi adanya potensi-potensi yang menciptakan teror. Seperti halnya, peran media dapat bergerak dari sisi pemberitaan sehingga bisa menjadi dasar pihak aparat untuk mendeteksi, selain itu media juga dapat menjalankan fungsi edukasi mengenai teror, sehingga memberikan kecerdasan kepada masyarakat secara umum.

“Jangan sampai ketika ada kasus teror atau setelah ada bom bunuh diri, baru semuanya bergerak. Dan kalau suasananya sedang tidak ada bom, semua juga akan menganggap sepele. Tapi kalau kita konsisten menjalankan edukasi baik yang dilakukan pemerintah, aparat hukum, agama, keluarga dan sekolah maka paling tidak kita setidaknya sudah melakukan upaya maksimal,” paparnya.

Kabid Humas Polda Bengkulu Provinsi Bengkulu AKBP Sudarno, SSos, MH menjelaskan, bahwa selain melakukan action di lapangan, pelaku terorisme juga melakukan pergerakan di lini massa secara masif, termasuk pergerakan menggunakan media sosial (Medsos) untuk menciptakan isu serta penggalangan.

Pihaknya, sudah melakukan upaya pencegahan dan pengawasan secara ketat terutama di jejaringan sosial untuk mendeteksi khususnya orang-orang yang sengaja membuat status atau mengunggah video yang meresahkan masyarakat.

” Setiap hari selama 24 jam kami aktif melakukan patroli di medsos, ia memastikan bisa mendeteksi secara cepat. Maka pesan kami bagi yang aktif dimedia sosial, mahasiswa, pelajar, bahwa orang dewasa, untuk hati-hati dalam menggunakan medsos,” terang Sudarno.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bengkulu, Drs. H. Mukhtaridi Baijuri menyampaikan bahwa dibanding memasukkan ke kurikulum sekolah, pencegahan terjadinya aksi bom bunuh diri yang dilakukan anak dibawah umur ini harusnya lebih mengutamakan kedekatan keluarga dan agama. Sehingga terhindari dalam musibah dan balak bencana yang membahayakan.

“Tentang radikalisme itu tidak ada dalam agama, jadi kembalikanlah ajaran agama itu, karena agama itu membawa kedamaian dan perbaikan diri kita. Karena persoalan ini hanya situasional saja, barang kali kalau ada kejadian yang lain mungkin berubah lagi isunya,” sampai Mukhtaridi. (805)