Pedagang Tuding Walikota Ingkar

RIO-DIALOG BATAL-PEDAGANG PSR SUBUH TOLAK RELOKASI (2)RATU SAMBAN, BE –  Pertemuan antara Pedagang Pasar Subuh Kota Bengkulu dengan Pemerintah Kota Bengkulu untuk membahas tindak lanjut kebijakan izin berjualan di Jalan KZ. Abidin II Kota Bengkulu yang dijadwalkan kemarin, batal.   Padahal para pedagang  telah datang sebelum pukul 09.00 WIB di Masjid As-Salama Pasar Minggu sesuai surat undangan yang diterima dari Dinas Perundustrian dan Perdagangan Kota Bengkulu.  Dalam undangan itu mengagendakan evaluasi Pasar Subuh dan tatap muka dengan Walikota Bengkulu.  Para pedagang  mengaku kecewa karena hingga pukul 10.00 WIB, Walikota Bengkulu, H Helmi Hasan SE, belum juga datang ke lokasi pasar dan justru memindahkan lokasi pertemuan ke Masjid At -Taqwa Anggut.
Pedagang yang terbawa emosi itu menilai Walikota Bengkulu sudah mengingkari janji dan tidak berani menemui pedagang di sekitaran Pasar Subuh.  Pedagang yang didampingi mahasiswa juga keberatan bila pertemuan tersebut digelar di masjid yang notabene merupakan tempat ibadah.  Apalagi dengan kondisi mereka yang kotor dari pasar dan pakaian yang dinilai tidak layak.
“Pengurus masjid melarang kita melakukan pertemuan di masjidnya,  sebagai umat muslim  pertemuan di masjid itu harus   bersih, kalau berpakaian seperti ini (seraya menunjukkan celana pendek, red)  maka tidak sopan,” kata  Koordinator Pedagang Pasar Subuh, Efendi.
Sementara itu koordinator Perwakilan dari Komunitas Mahasiswa Pro Rakyat (Kompor), Muhammad Iqbal  mengatakan, pedagang dan mahasiswa sepakat untuk menolak rencana relokasi pedagang Pasar Subuh ke Pasar Baru Koto dengan alasan selama tenggang waktu yang diberikan, pedagang sudah berusaha untuk menaati kesepakatan, dan pernyataan pemerintah yang menyatakan adanya bukti pelanggaran yang dilakukan pedagang  merupakan kesalahan yang dicari-cari.  “Selama ini pedagang sudah menaati  komitmennya, dan  Pasar Subuh ditinggalkan dengan kondisi bersih” terangnya.
Sementara Walikota H Helmi Hasan SE yang ditemui BE di Masjid At–Taqwa Anggut Atas usai acara pertemuan  imam dan da’i  kepada wartawan  mengatakan, ia yang memindahkan dan mengundang pedagang di Masjid At Taqwa.  Alasannya, jika pertemuan dilakukan di pasar, maka tidak akan kondusif dan tidak akan menemukan kesepakatan.   Sementara bila digelar di masjid, maka akan lebih tenang dan masing-masing pihak juga bisa menjaga perilakunya sehingga kesepakatan bisa dicapai. ”Berkaitan dengan kebijakan terhadap Pasar Subuh, Pemerintah Kota Bengkulu tetap meminta pedagang untuk pindah ke Pasar Baru Koto yang kondisinya lebih baik, mulai dari fasilitas tempat, listrik dan dukungan lainnya yang sudah dipersiapkan pemerintah termasuk bantuan untuk koperasi pedagang sebesar Rp 50 juta.  Apalagi dalam beberapa kesempatan yang diberikan pemerintah kepada pedagang, justru tidak bisa dipatuhi,” jelas Helmi Hasan.
Pedagang dan masyarakat juga diminta untuk menilai dengan objektif, bahwa pemindahan pedagang untuk alasan kebaikan. Pedagang juga tidak perlu khawatir berdagang di Pasar Baru Koto akan merugikan karena walikota sudah mengarahkan pegawai baik PNS dan swasta untuk beberlanja di pasar tersebut.  Dengan pelanggaran kesepakatan yang telah dilakukan, walikota berharap pedagang dapat pindah dengan kesadaran sendiri, karena pemerintah tidak akan melakukan tindakan represif. (247)