Pasien Tak Dilayani dan Berbelit-belit, Pelayanan di RSUD Mukomuko Dipertanyakan

Ist/BE
KESEHATAN: Tampak gedung megah RSUD Mukomuko, menjadi tak ada artinya jika pelayanan terhadap masyarakat tak maksimal.

MUKOMUKO, BE– Warga Desa Pondok Kandang Kecamatan Pondok Suguh, mengeluhkan pelayanan di RSUD Mukomuko. Selain pelayanan dinilai tidak maksimal, juga dalam berurusan berbelit – belit. Ini terjadi kepada pasien atas nama Nia Puspitasari, yang akan melahirkan. Kakak kandung pasien, Ilna Wati dikonfirmasi BE menyampaikan, pada Jum’at (22/10) adiknya dibawa ke RS Al-Barra, Mukomuko, dan ditangani oleh dokter spesialis di RS tersebut. Diketahui anak yang masih dalam kandungan diduga kembar. Satu diduga meninggal di dalam kandungan.
Dikarenakan kekurangan peralatan, kemudian pasien di rujuk ke RSUD Mukomuko dengan harapan mendapatkan pelayanan yang lebih maksimal. Namun keluarga pasien kecewa. Pasalnya tidak mendapatkan pelayanan petugas RSUD Mukomuko dengan cepat dan maksimal. “Masuk ke RSUD Mukomuko sekitar pukul 11.00 WIB. Tetapi, tidak mendapatkan pelayanan yang cepat. Malah, pasien diambil rapid test, katanya, hasilnya reaktif. Hingga alat bantu pernapasan. Petugas hanya mengantarkan sampai ke pintu ruang isolasi. Keluarga pasien yang disuruh memasang alat bantu pernapasan tersebut,” bebernya.
Dari hasil rapid test tersebut pasien tidak juga mendapatkan pelayanan maksimal dan dirawat di ruang isolasi RSUD Mukomuko. Pihak keluarga meminta supaya pasien di rujuk ke RSUD M Yunus Bengkulu. “Pihak RSUD Mukomuko tidak juga mengeluarkan rujukan. Katanya, di rujuk ke RSUD M Yunus Bengkulu ditolak, karena kamar penuh,” bebernya.
Pada malam itu juga, kata Ilna, pihak RSUD Mukomuko akan merujuk pasien ke RS M Jamil Padang, tetapi, harus mengisi surat pernyataan. “Isinya pasien dibawa dengan protokol Covid-19, dan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pasien tidak bisa dibawah pulang oleh keluarga, dan akan ditangani di Padang dengan protokol Covid-19,” katanya.
Pada malam itu pihak keluarga semakin marah, dan meminta pasien pulang dengan permintaan sendiri. “Pada malam itu pasien dibawa pulang ke rumah di Desa Pondok Kandang. Besoknya, dibawa ke Bengkulu hingga masuk ke RSUD M Yunus Bengkulu,” katanya.
Tidak ada penolakan dari manajemen RSUD M Yunus Bengkulu. Pasien di rapid test dan swab. Hasilnya, adik kandungnya negatif terpapar Covid-19. Pasien, kemarin (26/10), sekitar Pukul 13.00 WIB, telah di operasi. “Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Ibu dan bayi laki-laki selamat dan mendapatkan pelayanan yang bagus di RSUD M Yunus Bengkulu,” katanya.
Keluarga pasien sangat kecewa dengan pelayanan di RSUD Mukomuko.
Sebab, nyawa pasien menjadi taruhan dengan pelayanan yang berbelit-beli itu. Ia meminta Pemkab Mukomuko melakukan evaluasi dalam pelayanan. “Bagaimana masyarakat bisa mendapatkan pelayanan prima. Buktinya, pasien tidak dilayani maksimal. Bahkan, ketika pasien akan dibawa pulang. Keluarga pasien diminta memasang sendiri alat bantu pernapasan berupa selang oksigen,” tukasnya.
Walafiat kakak kandung pasien menambahkan, pihak keluarga juga tidak senang dengan pelayanan di RSUD Mukomuko. Setiap petugas tidak melayani dengan baik. Termasuk dari perkataan-perkataan yang keras. “Seharusnya, seorang petugas memberikan pelayanan yang santun dan ramah. Ini tidak, kami seakan-akan dianggap sampah dan perkataan dari petugas keras-keras dan tidak menghargai,” ujarnya.
“Kami minta bupati dan pihak terkait mengambil tindakan tegas. Supaya tidak terjadi dengan pasien lainnya,” tegas Walafiat
Plt Bupati Kabupaten Mukomuko, Haidir SIP menyampaikan, jika ada kekurangan atas nama pemerintah daerah memohon maaf kepada pasien dan keluarga pasien. Namun, Haidir juga menyayangkan pelayanan di RSUD Mukomuko.
Menurutnya apapun keluhan pasien harus ditangani sesuai dengan prosedur. “Jika keluarga meminta di rujuk. Pihak RSUD harus memberikan rujukan,” katanya.
Haidir meminta peristiwa tersebut tidak lagi terulang. “Ini menyangkut nyawa seseorang. Saya harap kejadian ini tidak terulang,” katanya.
Plt Bupati juga menyinggung terkait rapid tes hasilnya reaktif. Menurutnya reaktif belum tentu pasien tersebut positif terpapar Covid-19. “Yang jelas, kejadian ini tidak terulang. Keluhan masyarakat akan saya tindak lanjuti. Jajaran RSUD Mukomuko akan saya panggil untuk meminta klarifikasi terkait hal tersebut,” lanjutnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Mukomuko, dr H Tugur Anjastiko melalui Kabid Pelayanan, Harnovi dihubungi BE mengaku pasien tersebut tetap diberikan pelayanan sesuai prosedur. “Pasien tersebut rujukan dari RS Al-Barra. Karena pasien reaktif, di rawat di ruang isolasi,” akunya.
Menurutnya pasien trombositnya 80. Dikarenakan keterbatasan peralatan dalam hal ini tidak ada transfusi trombosit. Pihaknya telah berupaya untuk merujuk pasien dengan menggunakan system rujukan teregistrasi (Sisrut). “Saat itu PMI yang siap. Sedangkan RSUD M Yunus yang tidak siap. Informasinya tidak ada ruangan tempat tidur untuk pasien tersebut,” katanya.
Menurut Harnovi, yang siap pada malam itu adalah RS M Jamil Padang. Ambulance sudah disiapkan untuk membawa pasien. Hanya saja, pihaknya keluarga pasien dibawa pulang. Ditanya keluarga pasien tidak mau dibawa ke Padang, dikarenakan harus mengisi pernyataan yang memberatkan keluarga pasien.
“Iya, pasien pada malam itu akan di rujuk ke Padang, dengan persyaratan protokol Covid-19,” akunya.
Ditanya terkait alat bantu pernapasan, oleh petugas diminta pihak keluarga yang melakukan pemasangan. Harnovi mengaku tidak dibenarkan. Tetapi, pihaknya akan mencari tahu lebih lanjut kebenarannya. “Kami akan mencari tau kebenarannya. Nantinya akan ada tim. Dan akan dipertemukan kedua belah pihak. Dalam hal ini oknum petugas yang bersangkutan dan pihak keluarga pasien,” lanjutnya.

/Operasi Berjalan Lancar
Sementara itu, Wakil Direktur (Wadir) RSUD M Yunus Bengkulu, Mariani SST SKM mengatakan, pasien asal Desa Pondok Kandang Kecamatan Pondok Suguh Kabupaten Mukomuko dengan kondisi melahirkan secara darurat telah menjalankan operasi caesar (OC) secara lancar. “Alhamdulilah, pasien yang sampai pada Sabtu malam sudah kita tengani dengan baik,” terang Meriani kepada BE, kemarin (26/10).
Dikatakannya, operasi yang telah berjalan secara lancar itu, ibu dan satu dari dua anak kembar itu telah selamat dan sehat. Sementara satu anak kembar lagi, telah meninggal dunia, sebelum dibawa ke RSUD M Yunus Bengkulu. “Sampai dari RS, hasil pemeriksaan memang bayi kembar satunya sudah meninggal. Tapi alhamdulilah, bayi kembarannya selamat dan sehat,” ungkapnya.
Sementara itu, sebelum pasien melahirkan tersebut di OC, sesuai dengan protokol kesehatan (prokes) covid-19, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan. Seperti melakukan rapid test kepada pasien, hasil rapid test tersebut negatif. Sehingga dokter di RSUD M Yunus, langsung melakukan penanganan cepat untuk operasi.
“Rapid test kita lakukan dan hasilnya negatif,” ujarnya.
Meriani menegaskan, ditengah pendemi covid-19 saat ini RSUD M Yunus tetap akan melakukan pelayanan secara maksimal kepada masyarakat. Semua pasien tidak ada pembeda, ketika berada di RSUD M Yunus, maka ditengani dengan maksimal. “Komitmen kita, semua pasien dilayani secara maksimal. Tidak ada pembeda, semua pasien sama. Kita akan terus berkomitmen untuk itu,” pungkas Meriani. (151/900)

 

 

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*