Parkir PTM Batal Dibongkar

bengkulu
MEDI/ Bengkulu Ekspress ANTRE : Para pengunjung pasar PTM tampak sedang mengantri saat hendak membayar retribusi parkir di portal parkir PTM, kemarin.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Upaya para pedagang untuk meminta pihak pengelola membongkar portal parkir elektronik di Pasar Tradisional Modern (PTM), tampaknya sia-sia. Pasalnya, pihak pengelola tidak mau mengakomodir permintaan pedagang tersebut, dan tetap menerapkan sistem parkir itu.

“Untuk sementara tidak akan kita lakukan pembongkaran portal itu, karena pada dasarnya memang itu dibutuhkan oleh pedagang,” kata juru bicara pengelola PTM, Zulkifli Ishak kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (29/3/2017).

Menurut Zulkifli, pada prinsipnya 80 persen pedagang tidak mempermasalahkan adanya portal parkir tersebut, justru dari awal merekomendasikan agar pihak pengelola untuk meningkatkan pengamanan pasar. Namun timbulnya polemik ini karena ada beberapa pedagang saja yang sengaja menghasut agar melakukan aksi-aksi penolakan. Sehingga pihaknya tidak akan membongkar satupun portal tersebut dan tetap pada rencana awal.

“Kami imbau kalau ada sebagian orang tidak setuju dengan itu, jangan mengajak yang lain. Karena, untuk pedagang dilantai atas itu 99 persen memang setuju, dan di lantai bawah sekitar 70 persen juga setuju. Jadi, kalaupun ada aksi demo, itu karena merasa untuk menjaga solidaritas saja antar pedagang,” terangnya.

Zulkifki memastikan bahwa dengan adanya portal tersebut tidak mempengaruhi dengan pendapatan jualan para pedagang, karena setelah dilakukan pengecekan bersama legislatif dan eksekutif beberapa waktu lalu, jumlah pengunjung ke pasar PTM tersebut mencapai  2.400 orang perhari dan hasil tersebut murni dari pendataan yang tercatat di dalam komputerisasi parkir. Sehingga, hal ini menjadi alasan yang dibuat-buat oleh pedagang yang merasa tidak suka dengan adanya penerapan teknologi di pasar tersebut.

Sedangkan pemerintah daerah juga mendukung portal tersebut karena bisa menghasilkan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara sifgnifikan disektor parkir.

“Untuk PAD itu regulasinya 70 : 30 sesuai perda yang berlaku, tapi itu masih kita hitung-hitung lagi karena portal itu belum genap sebulan. Kalau sudah tahu angkanya nanti, baru bisa kita tetapkan angka untuk disetorkan secara rutin tiap bulan ke pemda kota,” tandasnya.

Sementara, para pedagang mengaku tidak ingin lagi mempersoalkan kebijakan portal parkir tersebut, karena merasa tidak terlalu mempengaruhi hasil pendapatan dalam penjualan. Sehingga mereka pasrah terhadap kebijakan antara pemerintah kota dengan pihak pengelola.

“Sebenarnya tidak terlalu masalah, kalau memang tetap dipasang. Karena kami berjualan ini masih seperti biasa. Kalau mogok-mogok jualan,  kalau bisa jangan lagi, justru itu yang bisa membuat kita rugi, apalagi kalau buah-buahan pasti busuk,” ungkap Purwanti, salah seorang pedagang buah-buahan. (805)