Para Polisi Bertubuh Gemuk yang Ikut Pengecilan Perut

Gendut Susah Kejar Penjahat

Sore itu, sekitar pukul 15.00, lapangan Ahmad Yani atau alun–alun Kota Tangerang, tampak ramai dari biasanya. Ratusan anggota Polres Metropolitan Tangerang, termasuk polwan, keliling lapangan. Mereka rupanya berolahraga untuk mengecilkan perut dan badan gemuk.

Sebagian anggota polisi yang sudah berkeluarga membawa putra mereka. Mengikuti program pengecilan perut dan penurunan berat badan yang digagas Kapolres Metropolitan Tangerang Kombes Wahyu Widada. Namun, sebagian dari anggota tersebut malu saat diabadikan gambarnya. Mereka memilih motong jalan agar terhindar dari wartawan.

’’Mudah-mudahan dengan progam ini berat badan saya bisa berkurang. Kalau tidak seperti ini anggota pada malas untuk berolah raga,’’ kata Aipda Atep Rohman, anggota jaga tahanan.

Dengan nafas tersengal- sengal lantaran sudah beberapa kali mengelilingi lapangan, Rohman yang ditemani kedua putranya Jali, 4 dan Ipnu, 3, mengaku senang dengan progam ini. Karena tidak terbiasa olah raga, pria dengan bobot tubuh lebih dari 90 kilogram ini memilih jalan santai. ’’Ayo Pak, lari lagi, masak kebanyakan berhenti dari pada larinya,’’ ujar Jali sembari menarik tangan ayahnya.

Mantan pengatur lalu lintas itu menyatakan, saat pertama masuk Polri tubuhnya sangat ideal. Namun, setelah berumah tangga pola makanan sudah mulai tidak teratur dan jarang berolah raga. ’’Kalau piket malam suka makan yang banyak sehingga berat badan naik drastis,’’ ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Brigadir Hendri. Anggota Provam Polres Metropolitan Tangerang terkena razia dari 132 anggota yang berbadan gemuk. ’’Kalau ramai-ramai begini enak juga, nggak bete berolah raga,’’ kata Hendri.

Memiliki perut buncit dan badan gemuk selalu menimbulkan masalah. Selain kurang percaya diri, tubuh tidak lincah, bawaannya malas bergerak, dan risiko terkena penyakit sangat besar. Berat badannya 75 kilogram dinilai tidak lagi ideal dengan tinggi badannya 170 sentimeter. ’’Masih harus dikurangi sekitar 3 kilogram lagi untuk mendapatkan berat badan ideal,’’ ujarnya.

Kapolres Metropolitan Tangerang Kombes Wahyu Widada menyatakan bagaimana jadinya jika seorang polisi memiliki tubuh tak proporsional, perut buncit dan berbadan gemuk. Yang pasti, sulit bagi anggota untuk cepat dan sigap memberantas kejahatan. ’’Apalagi, belakangan ini pelaku kejahatan tidak jarang lebih memiliki keahlian kabur dengan langkah seribu,’’ ujarnya.

Menurut mantan Sespri Kapolri itu, ada polisi yang memiliki berat sampai 100 kilogram, bahkan ada yang lebih dari itu. ’’Kalau sudah begini, bagaimana dia mau menjalankan tugasnya? Bagaimana mungkin dia bisa mengejar dan menangkap penjahat. Yang ada malah penjahatnya kabur karena polisinya tidak bisa bergerak cepat,’’ papar Wahyu.

Sebagai seorang polisi, mereka dituntut punya postur tubuh ideal atau proporsional agar dapat menjalankan tugasnya lebih cepat dan tepat. Jika polisi dengan berat tubuh berlebih sudah pasti akan mempengaruhi tuntutan profesinya itu. Dengan postur tubuh gemuk dan berperut buncit seringkali menyebabkan gerakan menjadi terbatas dan sulit memberantas kejahatan. Hal itu tidak mengimbangi kesigapan dan kecepatan  pelaku kejahatan.

’’Lihat saja sebagian besar penjahat badannya langsing-langsing. Dengan badan langsing mereka lincah berlari. Kalau polisi tidak memiliki langkah dan gerak lebih cepat, penjahat pasti kabur lebih duluan,’’ jelasnya.

Wahyu menegaskan program tersebut baru dilaksanakan dua pekan terakhir. Sebanyak 132 dari 1.472 anggota polisi di jajaran Polres Tangerang Kota terjaring dalam razia polisi gendut. Di antaranya delapan anggota polisi wanita (Polwan).

Mereka itu tak hanya bertugas di Markas Polres Tangerang Kota semata. Akan tetapi, di seluruh polsek di wilayah kerja Polres Tangerang Kota. ’’Yang terjaring mengikuti program ini adalah semua anggota polisi, tidak hanya anggota dengan pangkat terendah. Akan tetapi, mereka yang berpangkat tinggi pun terjaring dalam program ini, seperti Kasat Lantas,  Kabag Ops, Kapolsek Batu Ceper dan Kapolsek Ciledug,’’ ungkapnya.

Wahyu tidak terjaring dalam program ini karena dirinya sendiri memiliki tubuh proporsional dan langsing. ’’Beruntung Ginting (wartawan INDOPOS) bukan anggota polisi, kalau nggak masuk juga dalam progam ini,’’ canda mantan Kapolres Kabupaten Tangerang itu. Alasan lain program ini diluncurkan, kata Wahyu, karena setiap kali anggota polisi mengikuti tes kesehatan yang diberi nama Kesamaptaan dan Jasmani, yang dilakukan enam bulan sekali, banyak di antaranya terdeteksi berpenyakit darah tinggi, kolesterol, dan sebagainya. ’’Selain tidak lincah dan lambat, polisi gendut dan perut buncit mudah terserang penyakit. Kalau sudah sakit bagaimana bisa melayani masyarakat,’’ tandasnya. (gin)