‘Panic Buying’ Hingga Kelompok Miskin Baru Penyebab Kelangkaan Gas LPG 3 Kg di Bengkulu

Foto Hendrik/ BE – Pertamina melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke sejumlah pangkalan di Kota Bengkulu.

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Guna memastikan pendistirbusian gas elpiji 3 Kg dan tidak terjadinya kelangkaan di Bengkulu, Pertamina melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke sejumlah pangkalan di Kota Bengkulu. Saat di lapangan Pertamina tidak menemukan kelangkaan pasokan gas elpiji 3 kg yang dijual ke pangkalan beberapa wilayah Bengkulu.

“Tidak ada yang langka,¬†namun permintaan akan gas elpiji meningkat di Provinsi Bengkulu,” kata Region Manager Communication, Relations & CSR Sumbagsel, Dewi Sri Utami, Rabu (14/10).

Namun, kata Dewi, selain permintaan tinggi, adanya kepanikan warga atau ‘panic buying’ akan kabar LPG 3 kg susah didapatkan. Tetapi faktanya tidak terjadi kelangkaan di pangkalan atau distributor resmi pertamina.

“Malahan di beberapa pangkalan membuat sendiri kartu pelanggan atas inisiasi sendiri untuk warga agar mendapat LPG subsidi tersebut dengan harga sesuai HET,” ungkapnya.

Dewi mengungkapkan bahwa Pertamina senantiasa berkoordinasi dengan berbagai pihak agar pendistribusian LPG 3 Kg Bersibsidi tepat sasaran untuk masyarakat pra sejahtera dan usaha mikro dan tepat harga sesuai dengan HET.

“Upaya-upaya tersebut kami lakukan terus menerus di lapangan dengan menekankan kembali kepada Agen terkait penyaluran di Pangkalan,” ujar Dewi.

Senada, Sales Area manager Pertamina Lampung-Bengkulu Donny Brilianto mengatakan, jika disebut terjadinya kelangkaan atas gas elpiji 3 kg di Bengkulu kurang tepat. Namun peningkatan permintaan masyarakat yang terjadi di Bengkulu disebabkan beberapa faktor.

Diungkapkan Donny, faktor penyebab permintaan tinggi seperti dampak pandemi covid-19 dan migrasi pengguna dari sebelumnya mampu membeli gas 12 Kg dan elpiji 5,5 Kg karena pandemi beralih ke gas subsidi 3 Kg.

“Faktornya seperti kelompok miskin baru (Misbar) karena pandemi covid-19 dia di PHK dan tidak memiliki pekerjaan maka beralih menjadi pedagang. Kemudian kemampuan finansial sebelum di PHK menggunakan gas LPG 12 Kg namun setelah di PHK beralih menjadi pengguna gas LPG 3 Kg,” ungkpanya.

Tetapi, sambung Donny Pertamina telah mengantisipasi hal tersebut. Untuk pendistribusian ke pangkalan resmi pertamina sendiri dari Juli hingga Oktober, Pertamina secara konsisten telah menyalurkan dan memperkuat stok agar tidak terjadi kekosongan di pangkalan.

“Untuk itu, kita menghimbau masyarakat yang berhak untuk membeli elpiji bersubsidi 3 Kg di pangkalan. Jika membeli pada pengecer harganya berpariatif dan tidak sesuai HET. Karena, pengawasan pertamina hanya berlaku pada pangkalan-pangkalan resmi yang menerapkan harga sesuai HET,” tegasnya.

Sementara itu, Joko Wiyono salah satu pemilik pangkalan gas Elpiji di Lingkar Barat Kota Bengkulu mengatakan, saat ini dirinya menjual gas LPG 3 Kg kepada yang berhak dengan menggunakan kartu pelanggan agar tidak terjadi penjualan yang tidak tepat sasaran.

“Jadi disini kita hanya memberikan kartu bagi warga miskin dan pelaku UMKM untuk gas elpiji 3 Kg,” tuturnya.

Ia menambahkan, Pertamina sendiri mendistribusikan 100 tabung gas LPG 3 Kg perhari ke pangkalan miliknya. Dari 100 tabung tersebut, Ia distibusikan kembali dengan warga yang berhak dan pelaku UMKM.

“Jika masih bersisa, baru kita jual dengan pengecer dan orang diluar dua kecamatan wilayah pangkalan gas Elpiji kita. Karena kita mengutamakan warga dan pelaku UMKM di kecamatan Gading Cempaka dan Singgran pati kota Bengkulu,” tutupnya.(HBN)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*