Panen Padi Menurun 1,5 Ton/Ha

MUKOMUKO, BE – Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan (DP3K) Kabupaten Mukomuko memperkirakan bahwa hasil panen padi sawah di sejumlah daerah di Mukomuko menurun hingga 1,5 ton/hektar. Penurunan hasil panen itu disebabkan kemarau yang melanda wilayah Kabupaten Mukomuko.

“Kami prediksikan hasil panen kali ini menurun mencapai 1,5 ton/hektar. Itu baru prediksi saja untuk mengetahui secara pasti setelah seluruhnya sudah panen semuanya,” ungkap Plh DP3K Pemkab Mukomuko, Sunandi SP MSi.  Dibeberkannya, padi sawah yang akan panen raya dalam waktu dekat itu tepatnya Kamis mendatang bertempat di Kecamatan Selagan Raya dengan luas lahan 1.550 hektar.  “Sebelumnya hasil panen rata-rata 6 ton /hektar. Karena kemarau membuat padi sawah tersebut tidak cukup air sehingga hasil menurun yang diperkirakan hanya 4,5 ton/hektar,” bebernya.

Selain karena kemarau, lanjut Sunandi, juga dikarenakan hama pianggang, namun hama tersebut dapat diantisipasi segera. “Kalau serangan hama tidak begitu signifikan membuat hasil panen berkurang,” kata Sunandi.

Ia menambahkan, prediksi menurunnya hasil panen sudah ia laporkan kepada Bupati Mukomuko, dan direncanakan Kamis mendatang akan dilakukan panen raya.
alah seorang petani padi sawah Barlian menyampaikan  hasil panen yang kurang optimal itu juga berimbas kepada pendapatan petani ditambah lagi para petani tersebut menjual gabahnya kepada para tengkulak dari luar kabupaten dengan harga Rp225 ribu/karung hingga 250 ribu/karung dengan berat 60 Kg. “Jika para tengkulak tersebut kebanjiran menerima gabah yang dijual petani maka harga akan semakin rendah. Dan khususnya para petani yang mata pencaharian hanya bersawah mau tidak mau tetap menjual gabahnya ke tengkulak yang bersangkutan,” bebernya.

Barlian mengharapkan pemerintah daerah menyediakan penampungan sehingga para petani dengan mudah untuk menjual gabahnya dan hargapun dipastikan berpihak kepada petani. “Banyak keuntungan yang akan didapat petani jika pemerintah daerah ada tempat untuk membeli gabah. Sehingga para petani tidak perlu lagi menjual kepara tengkulak yang tentunya dihitung dengan biaya transportasi yang cukup tinggi,” ujarnya. Jika petani makin sejahtera maka pemerintahpun bisa dikatakan berhasil dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.  (900)