Pamer & Adu Cepat Mobil Mewah

Street Society Tayang Tahun Depan
INDUSTRI perfilman di tanah air semakin menggeliat. Setiap tahun jumlah film yang diproduksi semakin meningkat. Temanya pun beragam. Sebuah film yang mengambil konsep drama laga otomotif sedang digarap. Film yang memasang Marcel Chandrawinata sebagai aktor utama tersebut diberi judul Street Society.

Sutradara film itu, Awi Suryadi, Jumat (19/7) di Fable, SCBD, Jalan Sudirman, menjelaskan film yang penggarapannya kini sudah mencapai 70 persen tersebut. Awi bilang, lebih dari sepuluh supercar digunakan dalam film yang tayang tahun depan itu. Antara lain, Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Mercedes McLaren, Porsche 911 Turbo, dan Ferrari 599.

Film itu bercerita tentang Rio, pembalap jalanan yang diperankan Marcel Chandrawinata. Rio berhasil mengalahkan rekannya yang bernama Nico dalam sebuah balapan. Tak terima, Nico bersumpah akan membalas kekalahan itu. Selain adu laju mobil, film tersebut menghadirkan cerita cinta. Beberapa pemain lain yang terlibat adalah Chelsea Elizabeth, Ferry Salim, Edward Gunawan, Kelly Tandiono, dan Edward Akbar.

Bagi Marcel, berperan sebagai Rio dan berkesempatan mengendarai banyak mobil mewah adalah suatu kesenangan. “Kebetulan, dari SMP saya sudah suka utak-atik mobil. Pernah juga beberapa kali balapan liar. Jadi merasa pas banget sih main film ini,” tutur adik kandung Nadine Chandrawinata itu.

Meski begitu, dia agak sedikit berhati-hati saat syuting. “Soalnya, mobilnya mahal-mahal. Takut lecet,” lanjutnya, lalu tertawa. Apalagi, Marcel kebagian banyak scene kebut-kebutan. Tapi, dia senang bisa mendapatkan peran Rio yang diceritakan sebagai sosok laki-laki anak orang kaya yang sangar. “Itu kan gue banget,” ucap dia, lalu tertawa lagi.

Mengerjakan film yang melibatkan banyak mobil mewah begitu, Awi sebagai sutradara mengaku memiliki banyak tantangan. Untuk adegan kebut-kebutan, misalnya, fasilitas untuk mendukung pengambilan gambar tersebut di Indonesia belum memadai. “Jadi, sampai sekarang pun masih berpikir untuk ngakalin itu,” ungkap sutradara film Loe Gue End tersebut.

Awi bilang, meski film itu merupakan drama laga, porsi drama tetap lebih besar daripada laga. “Adegan kebut-kebutan 30 persen, drama 70 persen,” katanya.

Lalu, bagaimana cara Awi menyiasati supaya tidak terkesan bahwa mobil-mobil tersebut hanya menjadi pemanis film? Dia menjawab, sebetulnya porsi 30 persen untuk adegan kebut-kebutan sudah termasuk banyak.

“”Bisa saja dibuat adegan ngebutnya lebih dari itu. Tapi, kalau tidak sesuai dengan ceritanya, buat apa,” ujar dia. (jan/c11/any)