Oknum Pelajar di Kota Bengkulu Tertangkap Bawa 22 Paket Sabu

RIO/BE
OPERASI YUSTISI TEMUKAN NARKOBA: Satgas Gakkum Penanganan COVID-19
Bengkulu mengamankan para pelajar yang melanggar protokol kesehatan
berupa tak menggunakan masker dan berkerumun di Jalan Indra Giri
Padang Harapan, Kota Bengkulu, Senin (11/1). Dalam operasi yustisi
ini juga didapati seorang pelajar yang kedapatan membawa narkoba.

BENGKULU, BE – Seorang oknum pelajar salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Bengkulu berinisial Dm (18) tertangkap tangan menyimpan 22 paket kecil sabu-sabu dan 2 paket besar dalam tas.

Pelajar ini tertangkap personel Satpol PP Provinsi Bengkulu, saat razia masker di Jalan Batang Hari, Kelurahan Tanah Patah, Kota Bengkulu, Senin (11/1).
Direktur Narkoba Polda Bengkulu Kombes Pol Roh Hadi SIK kepada BE menuturkan Senin (11/1), bermula dari razia masker yang dilakukan  personel Satpol PP, karena pelajar ini berkumpul dan tidak menggunakan masker diberikan teguran. Kemudian, saat digeledah, salah satu pelajar menyimpan 22 paket sabu, 5 butir pil ekstasi dan timbangan digital.

Saat razia itu, Personel Satpol PP melihat sekitar 36 pelajar SMK nongkrong tidak jauh dari sekolahnya banyak tidak menggunakan masker. Kemudian, polisi mendekati para pelajar tersebut. Saat
dilakukan penggeledahan, salah satu pelajar kelas 3 berinisial Dm menyimpan 22 paket sabu, 5 butir pil ekstasi dan timbangan digital.

Personel Satpol PP langsung berkoordinasi dengan Direktorat Reserse
Narkoba Polda Bengkulu. Dari penyelidikan sementara, Dm merupakan kurir menjalankan perintah  dari seorang oknum warga binaan di Lapas Bengkulu berinisial G. Dari hasil koordinasi Ditresnarkoba Polda Bengkulu, dengan pimpinan Lapas. Warga binaan berinisial G tersebut memang berada didalam Lapas tersebut, tetapi nama aslinya bukan G. Diamendapatkan vonsi 5 tahun kasus narkoba.

“Kita akan koordinasi dengan Lapas untuk memeriksa G,” imbuhnya.

Selain mengamankan Dm, Ditresnarkoba juga sempat melakukan tes urine kepada 12 orang rekan Dm setelah Dm diamankan membawa sabu. Dari hasil tes urine tersebut 2 orang positif THC (ganja) dan 10 orang positif benzo (obat keras semacam samcodin). Selanjutnya, 12 pelajar yang positif dari hasil tes urine kemudian diserahkan ke BNN Provinsi Bengkulu, untuk diperiksa lebih lanjut.

“Iya tadi ada 12 orang kita tes urine, hasilnya 2 orang poitif THC dan 10 orang positif benso,” pungkas Kombes Pol Roh Hadi.

Dari pengakuan Dm, tertarik menjadi kurir, karena upah yang lumayan tinggi. Bermula dari seseorang yang menawarkan pekarjaan yang cepat mendapatkan uang. Dm kemudian dihubungi seseorang berinisial G untuk mengantarkan sabu. Sabu diantarkan sesuai dengan peta yang dikirim oleh G. Setiap berhasil mengantarkan sabu, Dm menerima upah 200 ribu bahkan bisa lebih.

“Aku cumo disuruh lempar sesuai dengan peta yang dikirim G. Aku idak pernah ketemu dengan dio, kurang dari sebulan aku jadi kurir,” jelas Dm dengan dialeg bahasa Bengkulu.

Menariknya, perbuatannya tersebut sama sekali tidak diketahui oleh keluarga Dm. Karena selama ini keluarga Dm tahu Dm itu sekolah, tidak banyak buat masalah. Bahkan ibu kandung dan kakak laki-lakinya hanya bisa menahan tangis saat Dm diperiksa penyidik Ditresnarkoba.

“Duitnya untuk bayar uang sekolah, gaek lanang aku sakit stroke,” jelas Dm sembari menangis. (167)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*