Nyala Untuk Yuyun : Potret Kasus Multidimensi di Indonesia

Oleh: Ridho Muhammad Sakti

Ridho M Sakti
Ridho Muhammad Sakti

4 April 2016 masyarakat Indonesia terkejut dengan sebuah kejadian tragis di Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Seorang gadis cilik Yuyun tewas dibunuh setelah diperkosa oleh 14 orang pemuda. Mirisnya 14 orang pemuda tersebut merupakan pemuda desa yang tinggal satu desa dengan korban. Bahkan saat pemakaman Yuyun, mereka turut serta membantu proses pemakaman . Saat dirilis oleh polisi, 14 pemuda yang masih dibawah umur dalam kondisi mabuk tuak melakukan pemerkosaan dan pembunuhan.

10 Mei 2016 7 orang dari 14 pelaku telah divonis di Pengadilan Curup dengan hukuman 10 tahun penjara. Secara moral hukuman ini sangat tidak setimpal dengan apa yang terjadi pada Yuyun. Ya begitulah hukum di Indonesia Komisi Perlidungan Anak Indonesia memaparkan hukuman anak usia dibawah umur yakni setengah dari hukuman orang dewasa. Adilkah?

Kasus Yuyun bukan hanya sekedar pembunuhan dan pelecehan seksual pada anak dan perempuan. Kasus Yuyun sangat Multidimensi. Kasus moral yang terjadi pada masyarakat di daerah Padang Ulak Tanding, Bengkulu. Bagi masyarakat Bengkulu daerah ini dikenal dengan sebutan Texas. Sebuah daerah sangat rawan akan perampokan, begal, pembunuhan apalagi mabuk-mabukan dan judi.

Coba anda searching di Google dengan Keyword “Texas atau Perampokan antara jalan Bengkulu- Lubuk Linggau”. Hampir setiap tahun daerah ini menarik perhatian dengan kasus perampokan, pembunuhan, pemerasan. Bagi pemudik yang melintas antara Bengkulu- Lubuk Linggau tak jarang harus membayar uang pos ilegal yang dijaga pemuda setempat. Hal ini terus menerus terjadi diwilayah PUT, Bengkulu.

Tahun 2014,  kerusuhan besar terjadi di daerah Texas antara kepolisian dengan warga setempat. Mapolsek PUT dibakar oleh oknum warga. Akhirnya karena sulit untuk diredamkan aparat TNI/Polri dilibatkan untuk menjaga stabilitas keamanan. Guru- guru yang berasal dari luar PUT pun disarankan tidak mengajar ke PUT. Jalan akses Lubuk Linggau – Curup ditutup. Kegiatan pendidikan dan pengajaran terpaksa berhenti. Apa penyebabnya? Sangat tidak wajar. Seorang warga tewas ditangan polisi lantaran terlibat perampokan. Warga lain tidak terima hingga melakukan aksi balas dendam.

Miris dan mengerikan. Sebelum kasus Yuyun muncul ke permukaan , ditemukan ladang ganja 5,5 Ha dikecamatan PUT. Inilah negeri krisis moral. Negeri dimana Nyawa sangat tidak berarti, Negeri disaat akhlak tak dijunjung, Negeri pembunuhan, pemerasan, mabuk-mabukan menjadi suatu hal lumrah.

Apa yang telah dilakukan pemerintah? Siapa yang berwenang bertanggungjawab terhadap penyakit sosial “Krisis Moral” yang terjadi?

Penulis adalah seorang pemuda yang telah bermukim di Curup, Rejang Lebong selama 15 tahun. Daerah PUT hanya berjarak 45-60 menit perjalanan dari Curup. Kejadian seperti ini selalu berulang di Kecamatan PUT. Nampaknya masalah Krisis Moral ini kurang menjadi perhatian penuh pemerintah Rejang Lebong dan Bengkulu. Bahkan isu yang beredar daerah PUT ini dari dulu ingin dibiarkan berpisah dengan Provinsi Bengkulu (pemekaran wilayah bergabung dengan sumsel). Ketika kasus Yuyun muncul diseluruh media nasional, Bupati Rejang Lebong yang baru menjabat DR (HC) H.A Hijazi, SH, MSi menginstruksikan Warung MIRAS ditutup. Dalam menanggulangi krisis moral perlu adanya kegiatan Revolusi Mental (baca Curup Ekspress edisi Sabtu, 7 Mei). Bupati berencana menerbitkan Perbup Kota Religius bagi masyarakat Rejang Lebong.

Apa yang disampaikan pak Bupati sangat tidak menjawab keresahan rakyat. Apabila Bupati menginstruksikan warung MIRAS harus ditutup, hal ini sudah jelas dalam Peraturan Daerah Kabupaten Rejang Lebong Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol. Dari zaman Bupati Suherman Perda sudah ada namun implementasi pemberlakuan dan pelarangan dilapangan yang belum dimonitoring dengan baik. Bupati dan jajarannya harus lebih berani dan tegas menjamin pelarangan dan pengaturan miras di Rejang Lebong.

Jika statement Bupati perlu adanya revolusi mental ini sangat normatif dan tidak menjawab keresahan rakyat. Kita harus mempertanyakan kapan kurikulum revolusi mental akan digalakkan? Semenjak dirilis 2014 sampai saat ini Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan belum merilis penggalakkan revolusi mental. Sangat Normatif jawaban pak Bupati. Keresahan rakyat butuh jawaban solutif dan langkah konkret.

Bagaimana jawaban Gubernur Bengkulu Terpilih Ridwan Mukti?

Gubernur Bengkulu, Ridwan Mukti, mengibaratkan kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun, siswi SMP di Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, adalah puncak gunung es dari kondisi sosial ekonomi Bengkulu yang merupakan provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di pulau Sumatera.

”Ini teguran bagi kita aparat pemerintah di daerah, bahwa provinsi Bengkulu memang harus segera kita lepaskan dari jerat kemiskinan yang sudah berlangsung lama,” kata Ridwan, pada Kamis (5/4/2016).

Lembak Berdarah pernah terjadi selesai karena TNI bersama warga duduk menyelesaikan permasalahan. Lebih dari itu, pemerintah dapat menginisiasi tim stabilitas keamanan (polisi adat) yang terintegrasi dengan polisi setempat bersama TNI/POLRI serta menginisiasi Tim spiritual (bersama TPA/ pemuka agama setempat) sebelum adanya Perbup Religius yang mudah-mudahan segera terealisasi. Selain itu penting di ingat usaha khusus pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten meningkatkan perekonomian PUT dan Pendidikan. Upaya perekonomian dapat digalakkan dengan mendirikan sentra UKM karena sebagian besar penduduk mata pencahariannya petani. Di bidang pendidikan mendistribusikan guru-guru sebagai tenaga pendidik dengan jaminan kehidupan yang aman. Sebab sampai detik ini permasalahan utama tenaga pendidik tidak ingin dipindahkan ke PUT adalah faktor keamanan. Bahkan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) melakukan demonstrasi penolakan untuk KKN di PUT sebab faktor keamanan.

Kasus Yuyun telah menarik perhatian Indonesia. Hal Ini menjadi potret memprihatinkan kehidupan masyarakat Indonesia. Saya yakin masih ada daerah-daerah di Indonesia serupa dengan kasus multidimensi yang terjadi. Semoga perampokan, pembunuhan, mabuk-mabukan, kriminalitas di Indonesia dapat terkikis. Mari kita tanpa henti selalu berdoa dan berusaha mewujudkan Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat.

Salam Pemuda Bengkulu yang Resah akan Tanah Kelahirannya,

Ridho Muhammad Sakti

Penulis adalah Co- Founder Mudo Bengkulu Kito, Sekretaris Jenderal Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia 2014-2016, Mahasiswa Universitas Indonesia