NURLAILI MPd

Tumpahkan Kritik dengan Sastra

IMG_5112 ggNURLAILI MPd  seorang penyair yang ada di Bengkulu, juga berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia di SMPN 15 Kota Bengkulu. Putri dari pasangan Janur dan Hj  Rakaah  ini,  dibesarkan dalam keluarga yang sederhana dan dengan belakang pendidikan Sekolah Rakyat. Pun begitu kepiawaianya dalam  menulis syair   puisi  dari bait ke bait  diwarisi dari sang ibu Hj Rakaah yang senang dalam satra bertutur. Namun kesenanganya  untuk membuat syair puisi  dilakoni sejak  di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketika duduk di bangku SMP, bakat menulis  Lili  kian tampak. Dia menulis puisi dengan menggunakan bahasa bertutur, dan ia menulis  ketika diminta dalam  pembuatan puisi di kelas oleh gurunya. Seiring berjalannya waktu, Lili  menulis puisi  dan dibukukan sendiri. Sayangnya  tragedi kebakaran hebat membuat rumahnya rata dengan tanah, seluruh dokumentasi puisinya hangus. Bakat menulisnya  terus  mengggeliat hingga lulus  kuliah Strata 1 di Universitas Muhammadiyah.
Ia kemudian  bekerja di Taman Budaya, disinilah ia semakin eksis, dan memiliki jaringan luas,  dan  ia masuk dalam  forum  penulis penyair perempuan Indonesia. Kemudian melanjutkan  kuliah  master pendidikan di Universitas Bengkulu. Jaringanya semakin  luas, dan  kian bertambah semangat untuk menulis. Atmosfir berkesenian yang ada dalam dirinya makin menggelora. Berbagai karyanya di bukukan bersama puisi  nasional lainnya salah satunya ,  buku  “Pesona gemilang Musim”, ia juga aktif  terlibat dalam klub-klub diskusi kesenian. Dikatakan ibu empat putra ini,  penulisan  syair berkat orang tuanya  yang selalu menanamkan  kebiasaan  cinta lingkungan dan peduli akan   kondisi sosial dimasyarakat,  inilah  melatar belakangi dirinya selalu   peduli dengan kondisi lingkungan sekitar,tulisannya  bernuansa sosial dan itu sangat terasa   dalam karya-karyanya  yang dihasilkan. salah satu hasil karyanya yang pernah dibukukan adalah “Mencari dan  si anak  pantai. “salah satu  Puisi itu menggambarkan   kondisi perempuan paruh baya yang menduduki  kursi  tuanya,” katanya.
Menulis suatu syair puisi  gampang-gampang susah dibutuhkan waktu  yang tepat,   merekam kejadian dalam tiap harinya, “menulis itu nunggu mood, terkadang lihat kejadian siang malamnya terpikiri, kalau lagi  mood ya inspirasi itu  mengalir begitu saja,  bisa beberapa   judul bahkan, ” katanya.
Ia sangat  bangga dengan  hasil karyanya yang selama ini  mampu menjadikan dirinya untuk berkeliling di nusantara bahkan akan menghantarkan ke tingkat nasional.  Selama  saya setiap tahun  datang ke daerah-daerah  membacakan  puisi bersama dengan rekan jaringan,  belum lama ini saya diundang di Jogyakarta,  dan belum lama ini  even di Jakarta mengundang  penyair dari Brunai.  Even yang akan diikuti kedepanya yakni, Bengkulu diundang   dalam kampung sastra di  negara Brunai Darusalam. Dalam kesempatan ini saya akan membawa anak-anak tingkat sekolah dasar, dan ini  akan diikuti seluruh provinsi. “Sekarang saya mengseleksi  siswa-siswi untuk dibawah kesana,  karena mereka ini akan mengikuti pertunjukan sastra di negeri orang  selama sepuluh hari, ” terangnya.
Guru Bahasa Indonesia ini, selain bangga dalam karyanya, ia juga mengaku puas dengan  caranya dalam mengkritik pemerintah dengan cara gaya bahasa, “mengkritik itu tidak semua menggunakan prilaku,  atau aksi treatikal, namun dalam bentuk  tulisan syair pun lebih tajam, ” terangnya seraya mengaku pernah  membuat syair  puisi  “sogok menyogok di pemerintahan” .  “kepuasan  saya, ketika mampu menulis puisi  dan   di bukukan, ” katanya.
Sebagai ibu dari anak-anaknya, istri Tito Adi ini tak melepas  tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus   perempuan karier, setiap pagi ia menjalankan tugasnya memasak  untuk ketiga putranya, seperti memasak,  membersihkan rumah dan lain-lain.
Terkadang harus ngajar les  kesenian,  rutinitas itu ternyata tak membuat  sang anak terlantar, justru kemandirian yang ditanamkan dijadikan contoh  terhadap anak-anaknya, dibuktikan berbagai prestasi yang diraih sang anak dibidang   yang sama seperti sastra puisi, sastra tari, sastra  cipta baca cerpen, baik tingkat provinsi hingga tingkat nasional.
Ia juga mengajak para perempuan Bengkulu   agar tidak  diam  saja, buatlah dan berkaryalah demi diri dan untuk orang lain,  karena dengan berkarya  mampu menciptakan jaringan yang luas.
“Mari para perempuan Bengkulu peduli terhadap  lingkungan sosial, lingkungan hidup, dan tanamkan  kecintaan itu terhadap anak-anak sejak dini, kenalkan mulai dari  keluarga,  dan lingkungan masyarakat, dan lingkungan kerja” ajaknya. (endang)