NTP Perkebunan Rakyat Rendah

Foto :IST

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Meskipun Nilai Tukar Petani (NTP) Perkebunan Rakyat di Provinsi Bengkulu mengalami kenaikan dari 77,03 pada Oktober 2019 menjadi 79,80 pada November 2019, namun nilai tersebut masih terendah dibandingkan subsektor pertanian lainnya. Bahkan nilai NTP di bawah 100 menunjukkan kenaikan harga produksi lebih kecil dibanding biaya konsumsi, sehingga petani mengalami defisit atau kerugian.

Ketua Serikat Tani Bengkulu, Muspani SH menganggap, harga-harga petani perkebunan sedang jatuh, terutama karet dan kelapa sawit. Sementara, harga kopi dan kakao sedang membaik. Menurutnya, jatuhnya harga menyebabkan tanaman tidak dipupuk dan dipelihara. Hal ini menyebabkan hasil panen yang didapat kurang maksimal.

“Tanamannya rusak tak termanfaatkan. ngerawat-nya gimana? Mau rawat untuk apa?,” kata Muspani, kemarin (3/12).

Ia mengungkapkan biaya pemanenannya menjadi lebih mahal dibandingkan tidak dipanen. Oleh karena itu, Ia menyarankan penggunaan kelapa sawit dalam negeri sebagai strategi alternatif atas terganggunya pasar di Eropa. “Harus ada strategi alternatif agar penggunaan kelapa sawit di daerah bisa semakin maksimal dan harganya bisa meningkat seperti penggunaan kelapa sawit menjadi bahan bakar diesel,” tuturnya.

Selain sawit, harga karet alam tetap rendah selama harga minyak bumi masih rendah. Untuk mengoptimalisasi permintaan terhadap karet, Ia menyarankan pencampuran karet alam dengan aspal yang kualitasnya lebih baik. “Meskipun biaya produksinya lebih tinggi, tetapi petani terselamatkan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ir Ricky Gunarwan mengatakan, harga tandan buah segar kelapa sawit yang ditetapkan pemerintah di tingkat pabrik yaitu, Rp 1.265,06. Dengan harga terendah sebesar Rp 1.080,56 dan harga tertinggi Rp 1.449,56. “Untuk saat ini harga sawit masih stabil belum ada kenaikan yang signifikan,” ujar Ricky.

Sementara harga karet alam cenderung fluktuatif dimana harganya saat ini per kilogram masih menyentuh Rp 6.000. Ia berharap ada perbaikan harga karet karena sejak setahun terakhir harganya belum membaik. “Kita inginnya harganya membaik, tapi harga karet kan dipengaruhi harga dunia, kalau di tingkat dunia rendah maka di Indonesia juga rendah,” tutupnya.(999)