Nelayan Juga Ingin Diperhatikan

BENGKULU, BE – Badai yang menerpa perairan Bengkulu selama satu minggu terakhir, membuat nelayan tidak turun kelaut.  Hal tersebut membuat mereka kehilangan mata pencaharian.  Meskipun sudah satu minggu tidak melaut, namun belum ada bantuan dari pemerintah untuk membantu perekonomian mereka.  Hal ini berbanding terbalik jika terjadi bencana banjir, pemerintah langsung sigap memberikan bantuan.
“Masalah kita sama, kalo banjir bencana di darat, sedangkan kami yang mencari nafkah di laut, badai sebagai bencananya.  Kenapa yang banjir cepat mendapat bantuan, sedangkan kami tidak sama sekali,” ungkap Berni (62) nelayan pantai Malabro Baru, kemarin.
Menurut Berni jika yang terkena banjir masih bisa mencari nafkah, karena yang terendam hanya rumah mereka.  Sedangkan untuk nelayan jika terjadi badai maka meraka akan kehilangan mata pencaharian. Mereka meminta pemerintah Kota Bengkulu bersama dinas terkait untuk mencari solusi, karena masalah ini setiap tahunnya selalu terjadi.  Ia meminta agar pemerintah memberi pelatihan kepada istri-istri nelayan sehingga jika suami mereka tidak melaut mereka masih bisa menghasilkan uang.
“Saat sedang musim ikan banyak ikan yang dibuang begitu saja, kami meminta pemerintah untuk memberikan pelatihan agar ikan-ikan tersebut bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis,” tambahnya.
Menurut Berni ikan-ikan yang tidak dimanfaatkan tesebut bisa diolah menjadi berbagai jenis bahan untuk pakan ikan maupun ternak lainnya, namun karena kurangnya pengetahuan dan dana yang dimiliki nelayan sehingga ikan-ikan tersebut dibuang begitu saja.
Senada dengan yang disampaikan Berni, Syahrial (54) menginginkan adanya bantuan modal dan pelatihan dari pemerintah sehingga istri mereka bisa bekerja dan membantu perekonomian keluarga terutama pada saat mereka tidak melaut.  “Saat ini keuangan kami semakin menipis karena tidak melaut. bahkan ada beberapa nelayan yang nekat melaut karena tidak ada yang bisa mereka makan lagi,” ujar Syahrial.
Menurut Syahrial mereka yang melaut tersebut adalah nelayan-nelayan muda dan mereka hanya berani melaut sejauh 2 Mil, karena gelombang di tengah laut lebih dari 2 meter. Selain melaut ada beberapa nelayan yang beralih profesi menjadi tukang ojeng sambil menunggu badai berhenti. Sementara itu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pulau Baai Bengkulu melalui kepala seksi Observasi dan Informasi Sudiyanto Sp mengatakan Badai yang terjadi saat ini sedang terjadi diperkirakan masih akan berlangsung selama empat hari lagi, dan ketinggian gelombang diperairan bengkulu berkisar antar 3 sampai 4 meter terutama di perairan Enggano. dan Ia meminta kepada nelayan untuk waspada dan Ia menyarankan untuk tidak melaut sebelum badai berhenti. (cw2)