Najib Ingatkan Ada 1.000 Warga Korut di Malaysia

PM Malaysia Najib Razak. Foto: thestar
PM Malaysia Najib Razak. Foto: thestar

jpnn.com – Hubungan Korea Utara (Korut) dan Malaysia kian memanas. Setelah mengusir Duta Besar Malaysia untuk Korut Mohamad Nizan Mohamad, kini Pyongyang menyandera warga Malaysia yang ada di sana.

Kemarin (7/3) Korut melarang bepergian enam warga Malaysia yang tinggal di ibu kota.

“DPRK (Korut) menerapkan larangan bepergian sementara untuk seluruh warga Malaysia di sini,” terang pejabat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Korut sebagaimana dilansir Kantor Berita KCNA.

Larangan itu bakal berlaku sampai Korut mendapatkan jaminan dari Malaysia soal keselamatan seluruh diplomat dan warganya di sana.

Keputusan Pyongyang tersebut langsung menuai reaksi keras Kuala Lumpur.

Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Najib Razak menyamakan larangan bepergian bagi warganya di Korut itu sebagai aksi penyanderaan.

“Itu sudah keterlaluan. Menyandera warga kami yang ada di sana adalah tindakan yang bertentangan dengan seluruh norma diplomatik dan hukum internasional,” paparnya.

Najib menyatakan bahwa pemerintahnya tidak akan segan membalas aksi Korut tersebut.

Meskipun, menurut dia, sebenarnya Malaysia adalah negara yang cinta damai.

“Menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangga adalah komitmen kami. Tapi, melindungi warga negara adalah prioritas kami. Maka, kami akan melakukan apa pun jika keselamatan mereka terancam,” ujar pemimpin 63 tahun itu.

Di hadapan media, Najib menyatakan bahwa Kuala Lumpur pun akan menyandera seluruh warga Korut di Malaysia.

Saat ini jumlah warga Korut di Negeri Menara Petronas tersebut sekitar 1.000 orang.

Sebagian besar di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa. Sementara itu, warga Malaysia yang saat ini tersandera kebijakan Pyongyang berjumlah sebelas orang.

Wisma Putra alias Kemenlu Malaysia menyebutkan, meski kedua negara menerapkan aturan bebas visa sejak 2009, tidak banyak warganya yang menetap di Korut.

“Saat ini ada sebelas warga Malaysia yang tinggal di Korut. Mereka adalah tiga staf kedutaan, satu keluarga yang terdiri atas enam orang, dan dua orang lainnya tercatat sebagai staf Badan Pangan Dunia PBB (WFP),” terang Kemenlu.

Dalam waktu tiga pekan, tepatnya sejak pria yang diyakini sebagai Kim Jong-nam tewas di KLIA 2 pada 13 Februari, hubungan Korut-Malaysia yang harmonis sejak 1979 tersebut buyar.

Kesepakatan bebas visa yang berlaku sejak 2009 berakhir pada akhir Februari lalu.

Akhir pekan lalu, Malaysia mengusir Duta Besar Korut Kang Chol.

Awal pekan ini, Korut balas mengusir Nizan. Kini dua negara saling menyandera warga sipil. (AFP/Reuters/BBC/hep/c21/any/jpnn)