Mutasi, Sumardi Diminta Selektif

MUARA BANGKAHULU, BE – Caretaker Walikota Bengkulu, Drs H Sumardi MM semakin gencar untuk melakukan mutasi. Dimana beberapa nama sudah dikantongi, terutama Camat dan Lurah yang dinilai akan melakukan aksi memberikan dukungan kepada salah satu calon. Tidak hanya itu, beberapa pejabat eselon II semakin center terdengar.

Atas rencana tersebut, dewan sama sekali tidak mempermasalahkan rencana dari Sumardi tersebut. Hanya saja, dalam menempatkan pejabat eselon nantinya, agar selektif sesuai dengan kebutuhan organisasi. Terlebih beberapa poisisi didalam struktural Pemkot Bengkulu, masaih banyak kosong.

Ketua komisi I DPRD Kota Bengkulu, Yudi Darwansyah SSos, menegaskan berdasarkan pengamatannnya selama ini terdapat beberapa posisi salah kaprah. Selain itu beberapa atasan dalam suatu instansi, banyak ditemukan kepengkatannya justru lebih tinggi bawahannya. Tentu hal ini sama saja dengan mematikan karier para PNS.

“Mutasi memabg hak penuh dari kepala daerah, kita tidak bisa ikut campu dalam urusan tesebut. Namun dalam hal ini, sebelum terjadi kami dari dewan hanya bisa memberikan saran, agar penempatannya nanti sesuai dengan kebutuhan serta kemapuan,’ katanya.
Politisi PDIP ini, sangat menyngkan jia Sumardi yang merupakan caretaker Walikota nantinya, dalam melakukan mutasi tidak benar, maka tidak ada bedanya dengan Walikota sebelumnya. Terlebih Sumardi yang juga menjabat sebagai Asisten I Pemprov ini, dewan menilai bisa lebih mengerti terhadap kebutuhan pemerintaahan.

“Namun sebaiknya tidak perlu melakukan mutasi, hingga terpelihnya Walikota defenitif mendatang. Tai kalau memang ada pejabat eselon yang tidak bisa netral, maka silahkan digeser daripada nantinya mencinderai pelaksanaan putaran II mendaatang,” tukasnya.
Sementara iti dukungan mutasi terhadap para pejabat eselon dijajaran Pemkot, mendapat dukungan dariperwkilan mahasiswa. Hal tersebut berdasarkan pengamatan mereka, beeberapa pejabat, banyak dikondisikan oleh kandidat incumbent. “Kita mendukung sepenuhnya kebijakan dari Pak Sumardi, karena jika tidak dilakukan justru akan menciderai demokrasi,” ungkap aktivis mahasiswa Unihaz, Lulus Triyono. (160)