Musim Pancaroba Rawan Angin Kencang

FOTO: Deputi Bidang Metrologi BMKG Mulyono R Prabowo

Cuaca Tak Bisa Ditebak

JAKARTA, bengkuluekspress.com – Meski sudah memasuki Desember, masa pancaroba atau transisi masih terjadi di beberapa wilayah. Dampaknya, frekuensi hujan sangat lebat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat dapat terjadi. Menurut BMKG, angin kencang itu salah satunya berwujud puting beliung. Senin malam (9/12) Kediri mengalami puting beliung. Deputi Bidang Metrologi BMKG Mulyono R Prabowo menyebutkan bahwa kejadian puting beliung terjadi secara random. Biasanya akan muncul di daerah yang baru masuk musim hujan.

“Pagi menjelang siang cuaca panas terik. Namun, mulai banyak uap air di udara sehingga sore tumbuh awan dan hujan lebat dengan durasi singkat yang diawali hembusan angin kuat. Angin bisa berupa puting beliung,” tuturnya saat dihubungi Jawa Pos.

Lebih lanjut, Kepala Bidang Desimminasi Informasi Iklim dannKualitas Udara BMKG Hary T Jatmiko menjelaskan bahwa puting beliung merupakan angin kencang yang berputar menyerupai belalai yang keluar dari awan cumolonimbus. Namun tidak semua awan jenis tersebut menyebabkan puting beliung. Ada berbagai macam kondisi yang menyebabkan tumbuhnya puting beliung. Salah satunya adalah kondisi labilitas atmosfer yang melebihi ambang batas tertentu.  “Fenomena putting beliung merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi,” tuturnya.

“Tanda akan terjadinya puting beliung adalah satu hari sebelumnya, udara pada malah hari hingga pagi terasa panas dan gerah,” tuturnya. Kemudian pada pukul 10.00 pagi terlihat awan cumulus atau awan putih yang berlapis. Diantara awan tersebut ada satu awan yang batas tepinya sangat jelas berwara abu-abu dan menjulang tinggi seperti bunga kol. “Tahap beriktnya awan tersebut akan cepat beribah warna menjadi abu-abu atau hitam. Nah itu awan cumolonimbus,” imbuhnya.

Perlu diperhatikan juga pohon di sekitar. Menurut Hary, biasanya ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat karena hembusan angin. “Di tempat kita berdiri terasa angin yang dingin,” tuturnya. Jika hujan yang terjadi merupakan hujan lebat maka perlu diwaspadai akan ada puting beliung. Namun jika gerimis, angin kencang biasanya tidak terjadi.

Puting beliung ini biasanya berdurasi singkat. “Sangat lokal. Luasan yang terdampak berkisar 5-10 km saja,” ujar Hary. Nah, karena kelokalan ini maka sulit untuk diprediksi. Kejadiannya paling sering pada siang atau sore. Kemungkinan kecil untuk terjadi di tempat yang sama.

Karena tidak bisa diprediksi, maka antisipasi dampaknya harus dilakuan. Hary mencontohkan, jika ada pohon tinggi yang rimbun bisa dipangkas. Agar risiko roboh menjadi lebih kecil. Kalau pun sudah terjadi, maka masyarakat disarankan untuk berlindung dalam ruangan yang kokooh.

Berkaitan dengan masa Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Hary justru memperingatkan mengenai hujan lebat. Dia juga memperingatkan daerah rawan longsor, terutama di daerah bukit dan lereng. “Jika terjadi hujan dan jarak pandang terbatas maka dihimbau untuk berlindung du bangunan yang kuat. Jangaj di bawah pohon,” ungkapnya. (lyn)