Musdalub Dilapor ke DPP Demokrat

BENGKULU, BE – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Bengkulu akan menyampaikan hasil Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) yang digelar Sabtu (29/9) di hotel Nala Sea Side ke Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Demokrat. DPD akan membeberkan semua permasalahan yang terjadi dan penyebab-penyebabnya sehingga Musdalub yang dihadiri Wakil Ketua Umum I, Jhonny Alen Marbun tersebut diwarnai dengan bentrokan dan harus ditunda hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Laporannya akan disampaikan langsung Plt Ketua DPD, dr Dian A Syahroza ke DPP hari ini (1/10) dan selanjutnya menunggu pentunjuk dan instruksi dari DPP.

“Kami membuat laporan terkait porses, kronologis dan hasil Musdalub ini agar menjadi pertimbangan DPP untuk menentukan jadwal Musdalub pada masa mendatang,” kata Sekretaris DPD Demokrat, Ahmad Ismail SE kepada BE, kemarin.
Kericuhan tersebut merupakan yang kedua kalinya dialami Waketum I Jhonny Alen Marbun yang sebelumnya terjadi pada Muscab kota Bengkulu di Rafles City hotel dan Jhonny Alen Marbun terpaksa dilarikan dengan menggunakan mobil karena amukan peserta Muscab yang tidak mau menerima Muscab karena terjadi dualisme kepengurusan PAC Demokrat di Kota Bengkulu.

Ahmad Ismail  menungkapkan keributan dan kericuhan dalam sebuah demokrasi merupakan hal yang biasa, karena partai Demokrat merupakan partai yang besar yang pengurusnya dan kadernya  memiliki berbagai kepentingan.

“Itu hal yang biasa, bukan saja dialami partai Demokrat melainkan juga dialami partai-partai besar lainnya,” ujarnya.

Kendati sempat terjadi aksi yang tidak mendidik pada saat Musdalub tersebut, ia mengatakan semua persoalan itu telah diselesaikan dan permohonan maaf pun telah disampikan pihaknya yang sempat emosi dalam acara tersebut.
“Kondisinya sudah kondusif kembali, pada saat rapat internal kemarin semuanya telah minta maaf dan kembali berangkul-rangkulan sebagai bentuk bahwa Partai Demokrat tetap kokoh dan bersatu menuju Indonesia yang lebih baik,” paparnya.

Demokrat Bakal Suram
Musdalub (Musyawarah Daerah Luarbiasa) DPD Partai Demokrat Provinsi Bengkulu yang berakhir bentrok disesalkan banyak pihak. Partai binaaan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) itu dianggap banyak dihuni “preman politik”.  Kondisi tersebut  akan menyebabkan partai Demokrat bakal suram dimasa mendatang.
Pengamat Politik Unib Drs Lahmir Syamsinaga MSi mengatakan bentrok dan kekerasan, serta main ancam dalam politik mestinya tidak perlu dilakukan. Didalam politik, seharusnya mengedepankan argumentasi dan negosiasi, baik kubu pro dan kontra. “Bukan main paksa, main tekan seperti itu (bentrok),” katanya.

Ia mengatakan, dalam berpolitik seharusnya mengedepankan rasionalitas dan persuasif. Bukan mengedepankan emosional dan konfrontatif. Sikap yang dipertontonkan oleh kader-kader Demokrat dalam Musdalub, tidak mencerminkan sosok negarawan yang baik. “Saya sangat sesalkan kejadian itu. Sebagai pengamat dan orang dekat, sebenarnya saya berharap Demokrat diisi oleh orang-orang negarawan. Dengan kejadian itu, saya berfikir banyak preman politik,” ujarnya.

Premamisme dalam politik tidak memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Padahal, tugas partai politik adalah memberikan pendidikan politik. Gaya preman, yang dipertontonkan oleh kader-kader Demokrat tersebut, justru akan membuat partai berlambang bintang merci ini, bakal memiliki masa depan yang suram. “Masyarakat akan mengalihkan dukungannya. Karena dalam politik itu, tidak ada pertemanan yang sejati. yang ada kepentingan sejati,” katanya. Kalau, kepentingannya sudah tidak ada. Masyarakat akan mengalihkan dukungan kepada partai lain. “Banyak yang siap menampung tumpahan (pindahan) itu,” katanya menambahkan.

Menurut Lamhir, masyarakat akan memindahkan orientasinya dari partai Demokrat ke partai lain. “Masyarakat akan menilai. Bahkan akan memindahkan dukungan kepada partai lain,” ujarnya. (400/100)